Feed on
Posts
Comments

BUNGA

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan
hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan
kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari
ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun
perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai
mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit
sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia
mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini
bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam
ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding
waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meninggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari
istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja
aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk
meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi
hari ini….

STOP KEKERASAN PADA WANITA…!!!

Kekerasan atas nama agama bukanlah hal baru dalam riwayat perjalanan agama - agama dunia. Kekerasan tidak hanya terjadi antar pemeluk agama yang berbeda, benturan - benturan yang berujung kekerasan juga terjadi pada mereka yang memeluk agama yang sama. Sebut saja agama - agama besar dunia misalnya Islam, Protestant, Katolik, Hindu, Budha semuanya pernah mempunyai sejarah akan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama berangkat dari perbedaan dalam memahami kitab suci, Tuhan, agama itu sendiri. Pebedaan - perbedaan pemahaman yang bermula dari ahli - ahli tafsir, ulama - ulama, para ahli kitab( dalam berbagai agama, hanya mereka yang berhak menafsirkan kitab suci )ini kemudian meluas ke akar rumput, yang kemudian melahirkan fanatisme - fanatisme sektarian dan semakin melembaga.  Fanatisme dan ketiadaan pemahaman tentang esensi beragama dan berTuhan pada level akar rumput inilah, yang membuat pemeluk agama melihat agama lain dari kacamata kepicikan yang sempit, sehingga cenderung merendahkan agama lain atau tafsir agama yang berbeda. Bagi mereka, tindakan atas nama agama tidak pernah salah, karena Tuhan dan kebenaran adalah monopoli mereka. ..Baca Selengkapnya..

Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule. ..Selengkapnya

Dalam menjalani kehidupan ini, seringkali kita merasa telah memilih jalan yang salah, merasa belok ditikungan yang salah, kemudian menyalahkan-nya (baca:diri sendiri) atas segala bentuk ketidakenakkan yang kita terima. Namun mau tidak mau, itulah hidup, naik turun, jatuh bangun dan kelokan – kelokan dalam hidup ini lah yang membuat hidup ini menjadi lebih menarik untuk dijalani. Proses naik turun ini yang membuat kita menjadi lebih kuat, jatuh bangun ini pula yang kelak akan menunjukkan seberapa tangguh kita dalam mejalani dan menghadapi kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu, bila ternyata belokan dan jalan yang salah ini lah yang dikemudian hari akan menghatarkan kita pada sebuah kebahagiaan, pada sebuah keberhasilan dalam hidup.

Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri, selalu optimis dan terus berjuang !!

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah seorang wanita yang tidak akan pernah mencintai siapapun kecuali seorang pejuang.

Bekerja

Dalam bekerja, menjadi kaya adalah bukan tujuan utama, karena bila menjadi kaya dijadikan sebagai tujuan, maka hidup ini akan kehilangan arti yang sebenarnya, kita hanya akan tenggelam dalam pengejaran – pengejaran yang sia – sia, pada akhirnya kita hanya akan menjadi budak dari apa yang kita kejar, dan kekosongan lah yang kita dapat.

Yaa ini hanya sekedar opini yang belum tentu ada yang setuju, karena cara pandang orang terhadap hidup akan sangat berbeda – beda. Namun begitu ini sedikit pandangan saya akan hidup dan bekerja.

Yang paling penting dari bekerja adalah, menyadari takdir cinta Ilahi yang menjadikan kita hidup dan bisa memenuhi kebutuhan hidup ini dengan segala sumber daya yang Dia berikan sehingga kita bisa bekerja. Berikutnya yang tak kalah penting dalam bekerja, adalah apapun yang kita lakukan hendaknya bermanfaat untuk orang lain. Bila Tuhan berkenan memberikan rizki lebih atas apa yang telah kita lakukan, maka kembalikanlah kepada-Nya dengan keikhlasan. Menjalani takdir hidup untuk kita dan untuk orang lain dengan keihlasan atas nama Tuhan, itulah esensi dari bekerja. Jadilah kita manusia dengan hidup yang penuh arti. Maka jadilah bekerja itu sebagai ibadah.

Caraku bahagia

Sering kali kita merasa diri kita sedang menderita, depresi atau stress, namun kita tidak menyadari apa yang menyebabkan itu terjadi, bahkan mungkin kita tidak mau tahu. Lalu bagaimana cara kita untuk mengatasi hal ini. Karena tentu saja kita tidak mau selalu dibebani oleh hal – hal yang sangat menguras tenaga itu.

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengidentifikasi masalahnya, kita harus mengenali perasaan – perasaan negative di dalam diri kita sendiri. Buat beberapa orang melakukan ini tidak lah mudah, kenapa? Karena untuk mengenali perasaan – perasaan negative didalam diri itu butuh kejujuran pada diri sendiri dan butuh keberanian untuk mengakui keberadaannya. Kebanyakan orang lebih memilih untuk menyangkal keberadaannya dengan membohongi dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, karena mereka terlalu takut mendapati bahwa dalam dirinya ada kesalahan. Yang diperlukan disini adalah keberanian, kejujuran dan kesadaran penuh untuk menghadapi perasaan negatif didalam diri. Ingat sebuah penyakit tidak akan dapat diobati kalau tidak dikenali lebih dulu. Lalu perasaan negatif seperti apa yang harus diidentifikasi? Apa saja, seperti bad mood, sakit hati, perasaan bersalah, trauma dan lain – lain. Kenalilah mereka terlebih dahulu. ..Selengkapnya

Sampai saat ini, dikarenakan sosialisasi dari PLN yang dirasakan sangat kurang, masih banyak pengguna layanan listrik dari PLN yang masih belum mengerti atau bahkan belum tahu tentang program insentif dan disinsentif yang mulai diterapkan pada semua pelanggannya terhitung bulan April untuk tagihan bulan Mei.

Secara garis besar, program insentif dan disinsentif ini merupakan cara PLN memaksa pelanggannya untuk menghemat penggunaan listrik, dengan cara memberi denda (disinsentif )pada pelanggan yang menggunakan listrik lebih dari ketentuan yang mereka tetapkan, dan memberikan potongan ( insentif ) tagihan listrik pada pelanggan yang menggunakan listrik dibawah ketentuan.

Menurut saya ini hanya akal – akalan PLN untuk mendapatkan pendapatan lebih, dengan cara “kreatif”, mengapa dengan cara seperti ini? Karena menurut KEPRES RI No.104 Tahun 2003 tentang harga jual tenaga listrik yang dijual oleh PLN, PLN belum bisa menaikkan TDL ( Tarif Dasar Listrik ). Memang munculnya program ini dipicu oleh kenaikan harga BBM yang merupakan bahan utama pembangkit listrik di Indonesia. Tapi bukankah ini kesalahan PLN yang tetap menggunakan BBM untuk menjalankan pembangkitnya, padahal masih banyak sumber daya alam yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik, mulai dari teknologi micro hidro, sampah, surya, panas bumi, angin dll, yang masa ketersediaannya lebih lama dari minyak bumi. Program ini membuat kita harus ikut menanggung ketidakmampuan PLN untuk menjaga ketersediaan listrik di negara ini. Tapi sudahlah, apa gunanya menggerutu. Lebih baik saya jelaskan bagaimana program ini dilaksanakan, agar orang – orang mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan agar tagihan listriknya tidak membengkak.

Berikutnya : Garis besar program penghematan penggunaan listrik

Pilkada Jabar sebentar lagi akan dilaksanakan, berbagai cara dilakukan oleh para cagub dan pasangannya untuk menarik simpati masyarakat untuk memilih mereka. Mulai dari penempelan poster – poster yang menurut saya tidak lebih dari perbuatan mengotori lingkungan, penjualan sembako murah yang hanya dilakukan pada masa kampanye, kunjungan ke daerah – daerah bencana, hingga memasang iklan di surat kabar daerah dan nasional. Satu yang tidak pernah saya lihat dalam kampanye mereka yaitu debat terbuka, jangankan itu visi da misi mereka saja tidak jelas, isinya hanya serangkaian kata – kata klise yang ideal. Pelaksanaannya? Jangan tanya, dapat dipastikan itu hanya janji belaka, seperti pada kampanye lain.

Di salah satu surat kabar nasional bahkan menyatakan bahwa para cagub ini tidak punya konsep yang jelas untuk membangun Jabar. Sepertinya pilkada ini hanya digunakan untuk menempatkan orang – orang yang secara politik dianggap pantas untuk mengisi kekosongan jabatan. Pada akhirnya pilkada berubah menjadi lahan perebutan oleh pihak – pihak yang mempunyai kepentingan politik dan ekonomi atasnya. Mereka hanya mendambakan kuasa, demi diri pribadi dan kelompoknya, bukan demi rakyatnya. Dalam menjalankan perannya sebagai gubernur kelak, siapapun yang terpilih nanti, mungkin tidak lebih dari hanya meneruskan pekerjaan harian dari gubernur sebelumnya.

Selengkapnya

Dating Violence

Mungkin belum banyak yang mengenal istilah ini, atau mungkin sudah? Popularitasnya memang kalah oleh Domestic Violence atau yang biasa kita kenal dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ( KDRT ). Namun pada dasarnya kedua bentuk violence ini sama saja, sama – sama menggunakan kekerasan terhadap pasangan.

Lalu apakah sebenarnya Dating Violence itu? Dating Violence adalah segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dalam hubungan pacaran. Menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994 pasal 1, definisi kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. Bentuk kekerasan ini digolongkan menjadi tiga yaitu :

  1. Kekerasan fisik, misalnya memukul, menendang, menjambak rambut, mendorong, menampar, menonjok, mencekik, menganiaya bagian tubuh, menyundut dengan rokok, ataupun hal lain yang sifatnya membahayakan keselamatan fisik.

  2. Kekerasan seksual, bentuknya bisa berupa rabaan, ciuman, sentuhan yang tidak di kehendaki, pelecehan seksual, memaksa kita untuk melakukan hubungan seks dengan beribu satu alasan tanpa persetujuan, apalagi dengan ancaman akan meninggalkan, atau dengan penganiayaan.

  3. Kekerasan emosional, bentuknya berupa cacian, makian, umpatan, hinaan, menjadikan kita bahan olok-olok dan tertawaan ataupun menyebut kita dengan julukan yang bikin sakit hati, cemburu berlebihan, pembatasan aktivitas, pembatasan pergaulan, bahkan pemerasan. Kekerasan ini banyak terjadi, namun tidak kelihatan dan jarang disadari, termasuk oleh korbannya sendiri. Pada intinya, kekerasan emosional ini akan menimbulkan perasaan tertekan, tidak bebas dan tidak nyaman pada korbannya.

Banyak faktor yang mendorong terjadinya Dating Violence ini. Pertama, kita bisa berangkat dari budaya dalam masyarakat kita, doktrin mengenai laki – laki dan perempuan sudah diberikan sejak kecil, tentang perbedaan fisik, perilaku dan lain sebagainya sehingga menghasilkan image identitas atas mereka, seperti macho, maskulin, feminim, lemah lembut, dan banyak lagi. Lebih jauh lagi doktrin ini juga mengajarkan cara menempatan diri di depan lawan jenis. Bagaimana sebagai perempuan dan bagaimana sebagai laki – laki, mengingat budaya kita adalah patriakis, maka bagaimanapun juga posisi perempuan akan selalu berada “dibawah” laki – laki. Inilah yang menyebabkan mengapa perempuan lebih dominan menjadi korban dalam Dating violence. Doktrin budaya “laki-laki dan perempuan” ini telah memberikan legalitas kepada laki-laki untuk menjadi lebih berkuasa dan memberikan keyakinan kepada perempuan bahwa perempuan adalah “lemah” dan “penurut”.

Hal kedua yang memelihara terjadinya Dating violence adalah pembiaran, ketidakadilan gender yang sudah mendarah daging dalam masyarakat, membuat masyarakat seakan – akan menjadi maklum atas terjadinya Dating violence ini, bahkan dalam beberapa hal, pihak perempuan yang jelas – jelas sebagai korban, tetap disalahkan atas terjadinya Dating violence dengan berbagai alasan pembenaran. Yang ketiga dan tak kalah penting, adalah tidak adanya tindakan nyata dari korban untuk keluar dari segala bentu kekerasan yang dialaminya. Umumnya korban lebih memilih diam daripada menceritakan kepada orang tua, teman apalagi pihak yang berwenang, mereka selalu menutupi dengan berdalih, setidaknya mungkin sampai keadaan mereka sudah sangat parah, sehingga memerlukan pihak lain untuk membantunya misalnya teman, orang tua, pihak medis atau pihak yang berwajib. Hal ini biasanya terjadi karena korban mendapatkan ancaman dari pelaku, atau karena iba melihat pelaku yang memohon maaf setelah melakukan kekerasan, percaya bahawa pelaku telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, padahal seseorang yang punya kebiasaaan melakukan kekerasan terhadap pasangannya akan cenderung mengulangi lagi, karena hal itu sudah menjadi bagian kepribadiannya, sebagai cara penyelesaian konflik atau masalah. Keempat, dan yang paling bodoh adalah karena cinta, sayang, dan alasan-alasan lainnya yang selalu dipergunakan oleh mereka yang “buta”. Atas dasar alasan-alasan tersebut pulalah apabila terjadi kekerasan dalam pacaran, korban tidak mempermasalahkannya. Seringkali korban justru menyalahkan diri sendiri dan merasa pantas diperlakukan seperti itu sebagai hukuman atas ketidakmampuannya menjaga hubungan baik yang terjalin bersama pacarnya .

Secara hukum pelaku kekerasan ini bisa dijerat dan dijatuhi sangsi sesuai dengan KUHP, yaitu :

  1. Pasal 351 – 358 KUHP untuk penganiayaan fisik.

  2. Pasal 289 – 296 KUHP untuk pencabulan.

  3. Pasal 281 – 283 KUHP untuk pelecehan seksual.

  4. Pasal 285 KUHP untuk pemerkosaan.

  5. Pasal 532 – 533 KUHP untuk kejahatan terhadap kesopanan.

  6. Pasal 286 – 288 KUHP untuk persetubuhan dengan perempuan di bawah umur.

Jadi apabila kita melihat bentuk kekerasan seperti ini sebaiknya kita melaporkannya agar dapat segera dihentikan. Bila kita hanya diam, itu berarti kita ikut membiarkan kekerasan itu terjadi dan terjadi lagi, kita tidak inginkan itu. Katakan TIDAK untuk segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Buat perempuan – perempuan yang mengalami dating violence, tanyakan pada diri sendiri : “Apakah ini cinta ?”, katakan dengan tegas : “STOP hentikan sampai disini”. Ingat, kalian berhak untuk menolak apa yang tidak kalian suka, kalian berhak untuk bahagia. Pacaran mestinya merupakan keputusan sadar dengan penuh pertimbangan dan itikad baik antara kita dan pacar, melibatkan aspek emosi, keyakinan, sosial, dan budaya. Tentu ada unsur pembelajaran, penghargaan, penghormatan, komunikasi yang dapat menjadi pendekatan positif. Kalau terjadi kekerasan dalam pacaran, berarti tujuan ini tidak tercapai.

Akhir kata, hanya sekedar mengingatkan, mudah – mudahan bisa menjadi tamparan dan menyadarkan mereka – mereka yang membiarkan kekerasan terjadi pada dirinya dengan alasan cinta, takut atau apapun.

 

LOVE is NOT ABUSE, LOVE is RESPECT !!

 

( dari berbagai sumber )

Sebenarnya ide ini bermula dari seorang teman yang “menghakimi” aku bahwa aku tidak pernah benar – benar mencintai orang yang selama ini aku rasa aku cintai dengan tulus. Lancang? Memang, tapi aku yakin dia punya teori yang mendukung pendapatnya itu, meski terkadang aku tidak pernah bisa mengerti apalagi mengikuti cara berpikirnya, jadi aku beri dia kesempatan buat menjelaskan maksudnya.

Menurut dia, aku ga pernah jatuh cinta pada siapapun, kecuali diri sendiri, ego dan prasangka – prasangkaku atas segala sesuatu yang kemudian dikonsumsi oleh AKU sebagai obat penenang. Sadar atau tidak ( kebanyakan tidak ) kita sebenarnya hanya mementingkan diri sendiri. Kenapa AKU mengkonsumsi obat penenang? Manusia secara naluriah berusaha mencari kebahagiaan, rasa nyaman dan ketenangan, kebanyakan dari mereka mencarinya di luar diri mereka sendiri, misalnya harta benda, kekasih, dll.

Ada sebuah kejadian yang dia ambil sebagai contoh, suatu hari salah satu teman kami bertemu dengan mantan kekasihnya, si mantan ini berkali – kali memohon dengan seribu macam rayuan. “Aku cinta kamu, aku ga mau kehilangan kamu”, “Aku butuh kamu”, “Cuma sama kamu hari – hariku bahagia”. Sekarang coba kita analisa kata – kata diatas, semuanya menunjukkan kepentingan si mantan seorang. Hanya kepentingan si mantan. Please lord show her the right way. Ini bukan cinta, bukan teman kami yang dia cintai, tapi dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan rasa nyamannya, obat penenangnya. Seperti sakau, si mantan ini menjadi gila dan akhirnya menggunakan kekerasan, dia memukul dan menendang teman kami yang katanya dia sayang. Inikah yang namanya cinta? Sayang? BULLSHIT!!! What a crap!! Go to hell !! ( maaf terbawa emosi ). Dia cuma sayang pada dirinya sendiri!

Jadi selama ini dia anggap aku, memanipulasi kenyataan yang sering kali ga aku sadari, memanipulasi orang yang aku rasa aku cintai dengan tulus, hanya untuk kepentingan ego aku semata. Ada lagi kasus yang dia ambil, sahabat kami mergokin kekasihnya sedang jalan mesra dengan orang lain, dalam keadaan marah sahabat kami bilang “Kenapa kamu kecewain aku? Selama ini aku percaya ma kamu”. “Selama ini aku percaya sama kamu”, sebenarnya dia tidak pernah percaya pada siapapun, dia hanya percaya pada anggapan dia mengenai kekasihnya itu, bukan kekasihnya yang dia percaya. Ini ego yang berbicara.

**Bingung** Jadi aku ini jatuh cinta pada siapa? Apapun yang dia bilang, aku tetep yakin kalo aku mencintai dia yang aku cintai selama ini dengan tulus, bukan seperti yang dia tuduhkan. Namun jujur aku akui, ada ego yang membuatku tidak ingin kehilangan dia dan rasa nyaman yang dia berikan. Dalam hal ini sepertinya kita harus maklum, karena kita manusia sebagai makhluk sosial akan selalu bergantung pada orang lain, baik fisik, psikologis, ataupun emosi.

Kalo kamu? Siapa yang kamu cintai ?

Older Posts »