h1

solitude in rain

8 January 2012

hamparan waktu berjejak aku
dalam ruang kubus berbatas senja
sebuah solitude di padang jiwa;
bukan kesendirian, hanya penantian
untuk sebuah hujan sore
berteman secangkir teh, sehangat kekasih

h1

Jakarta dan Nurani

2 August 2011

“Oy, tanggung jawab nih, naikkin kursinya, lw kan yang berentiin. Nyusahin aja, dasar goblok, gw gak ada untungnya ngangkut beginian, bego, nyusahin. Malah nyengir lagi lw, bego. “

Umpatan itu terlontar dari seorang kernet kopaja, yang enggan menaikkan penumpang cacat dengan kursi roda. Bermula dari rasa kasihan seorang teman melihat orang tua dengan kursi roda, berusaha keras untuk menyetop kopaja, dan tidak satupun dari mereka bersedia untuk berhenti. Teman saya berinsiatif untuk membantu bapak tua  itu, dan dia berhasil. Dia memapah bapak tua itu naik kopaja, begitu juga penumpang didalamnya, mereka dengan sigap membantunya naik, dan menaikkan kursi rodanya.  Namun kami tidak menyangka, kernet kopaja tersebut akan melontarkan makian kasar nan kotor seperti itu.

Entah apa yang dipikirkan si kernet, enggan memapah orang cacat ? toh dia tidak melakukan apa – apa ketika teman saya dan penumpang lain saling bantu menaikkan si bapak tua dan kursi rodanya. Takut tidak dapat bayaran ? saya kira tidak, saya bisa lihat si bapak tua itu bukan tipe pengemis, yang mengandalkan kecacatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Satu yang saya dan teman saya sepakati. Ketiadaan nurani lah yang membuat si kernet berbuat demikian. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk membantu, alih – alih membantu, dia malah melontarkan makian. Beruntung teman saya hanya membalasnya dengan senyum, meski makian terus terlontar.

Mungkin kerasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit menggerus habis nurani manusia – manusia didalamnya, mengeraskan hatinya, dan menyuburkan naluri kekerasan? Atau kerasnya Jakarta hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh lemahnya mental manusia – manusianya yang tidak bisa menjaga liarnya hewan – hewan di dalam dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan, apakah kita mengijinkan Tuhan hadir dalam diri atau tidak.

Saya percaya di tengah  – tengah Jakarta yang katanya kejam dan keras, masih banyak orang – orang bernurani, yang bisa tetap tersenyum ketika didera caci maki, yang dengan hati membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di dunia.

h1

aforisme luka

17 April 2011

Seperti malam yang tak pernah kembali,
dikala hujan ilalang tumbuh untuk mati,
sepi, kembangkan asingku dibawah rembulan berkabut senja,
bermekaran, menyaru luka…

h1

between sanity and insanity

21 October 2010

There are a certain eras which are too complex, too deafened by contradictory historical and intellectual experiences, to hear the voice of sanity. Sanity becomes compromise, evasions, a lie.

–  Susan Sontag

 

Sanity atau kewarasan, merupakan sikap umum yang diharapkan dari setiap individu oleh individu lain, dalam interaksinya dengan dunia. Kewarasan juga kerap dijadikan sebagai ukuran penerimaan individu di lingkungannya. Tapi yang mengganggu pikiran saya adalah, apa, darimana dan oleh siapa batasan – batasan kewarasan itu dibuat, apakah perilaku yang dianggap tidak waras itu sama dengan tidak baik ? apa yang mendorong individu untuk berlaku waras ?

Menurut saya, kewarasan bukan tool yang tepat untuk menilai individu, mengapa ? karena seperti yang dikatakan oleh Susan Sontag dalam kutipan diatas, bahwa sanity atau kewarasan itu merupakan hasil kompromi, bahkan bisa juga menjadi sebuah kebohongan. Batasan kewarasan ditentukan oleh “benar” yang majemuk, dan pada akhirnya “benar” yang dikompromikan. Agamawan, politisi, ekonom, ilmuwan, semuanya berlomba – lomba mengclaim kebenaran. Nama – nama nabi, orang – orang suci, dan filsuf, tiba – tiba saja menjadi nama produk yang di jejalkan di etalase – etalase toko buku, kelas – kelas, ruang diskusi dan mimbar, seperti produk – produk consumer lainnya. Pada akhirnya benar yang mana yang akan digunakan untuk menilai ? individu – individu dalam lingkungan sosial akan mengkompromikan kebenaran – kebenaran yang ada sesuai dengan angka mayoritasnya.

Dengan begitu, menjadi waras adalah menjadi apa yang diinginkan oleh kebenaran yang dikompromikan berdasarkan kuantiti mayoritas. Dan ketidak warasan adalah kebalikannya. Lalu apakah menjadi tidak waras ini sama dengan tidak baik ? tentu tidak sama sekali. Karena benar yang dikompromikan bukan benar yang sejati. Coba kita lihat nabi – nabi dan orang – orang besar, kebanyakan dari mereka di kategorikan sebagai orang tidak waras pada jamannya. Karena apa yang mereka apa yang mereka bawa dan yang mereka lakukan bertentangan dengan compromised truth pada saat itu, ditempat itu.

Bagi individu – individu yang selalu berusaha untuk menjadi waras,menjadi apa yang diinginkan dunia, seringkali membohongi dirinya sendiri demi penerimaan masyarakat atasnya. Kewarasan menjadi sebuah kebohongan dan pelarian dari keinginan dan asumsi kebenaran sejati individu. Jadi apa salahnya menjadi tak waras dalam lingkungan sosial juga belum tentu benar. Karena kebenaran sejati itu tidak ada, yg ada hanya suara hati dari kesejatian hidup, dan kita tidak ingin kewarasan dari benar yang terkompromikan ini merengut kebenaran dari suara hati sejati yang kita yakini.

h1

Differences

21 June 2010

In Your majesty, You create differences
In my arogance, i question Your wisdom
In your mistery You create temptation
In my inferiority, You make me more than i am..

Why does God create a differences ( read : religions and believes ) ? If God want to be worshiped only in one particular way, why there’s should be a differences ?

In my opinion, God never meant to create differences as we thought  so, because that what God is. God is the universe, God is everything, sunny day and a dark night, silent and loud, cold and hot, beauty and ugliness, bitter and sweet, black and white, colors, et cetera.

A differences is just a perception that created by man kind, for their subjective ideas goal. This stupid idea reside on our mind because we’ve being forced to live with it, to live with this perception for ages. This perception of differences has been told from generation to generation, again and again. As we all know,  if a story, doctrine or a dogma repeatedly told, it will be evolved and becoming a common truth.

Back to religion differences. Most doctrine in every religion said that none of ever existed religion except theirs is wrong, this idea is repeatedly told for ages, and already evolved into common truth. In the progress, this doctrine creates the worse fascist ever existed. This is the main constructor of differences idea. Starting from a simple right and wrong. From that idea the disciples creating rules and boundaries to restrict their members thought and mannerism, and make the gap even wider.  For example, one of their products is marriage rule. This was meant to protect their religions from extinction, and to make it more superior. They use Gods name to legitimate their way. Honestly I don’t think God would be agree with that. Yes, even for this personal thing, they had an imaginary legitimacy to control who can marry who, personally. I said it is an imaginary legitimacy because, actually they doesn’t have one, they only feel that they have, because of the doctrine said so. Remember, we lived in an illusion of a perception, where right or wrong is determined by ancient subjective ideas and goals, not God. I’m not saying this one is right or that one is wrong, because for me, in faith and believes, that is God’s and believers domain, where others have no right to interfere.

Sadly, in most community in our time,  if one has a different thought about anything, they will be judged and considered as an infidel, and get excluded from the community. But I said, what a hell with that. I don’t want to be trapped in others forced perception and imaginative truth no more.

In the end,  if we able to see everything in a bigger picture, and put aside all planted perceptions that reside on our mind. We will find there’s no such things called differences, and realize that is just how God shows him self, that is how God shows his love. To do so we need to open our eyes, mind and heart widely, so we can see where we live on, is it in our own way of thought and believes or in illusion of others forced perceptions.

h1

Tak ada yang abadi, ujarnya

9 June 2010

Tak ada yang abadi, ujarnya.

Keabadian itu nyata bagi yang meyakininya . Sayangnya entah dia tidak tahu atau dia hanya lupa, bahwa keabadian itu tidak terjadi begitu saja, keabadian bukan sesuatu yang bisa di dapat dengan Cuma – Cuma, karena memang tidak ada yang gratis di dunia ini, terlebih lagi sebuah keabadian. Ada jalan panjang yang melelahkan dan bahkan kadang menjadi tak berujung, untuk sebuah keabadian, karena keabadian berdiri diatas pilar – pilar komitmen, konsistensi, keyakinan dan perjuangan dalam koridor aturan – aturan yang seringkali tidak mudah untuk diikuti.

Contoh sederhana : janji Tuhan akan keabadian Surga. Bagi yang meyakininya, janji ini adalah mimpi sejati yang harus dicapai, mimpi untuk bahagia. Namun apakah keabadian yang dijanjikan Tuhan ini dapat diperoleh dengan Cuma-Cuma ? Dalam berbagai kitab suci yang meyakini hari akhir, tahu bahwa ada aturan-aturan yang harus diikuti agar bisa mencapai keabadian. Tuhan berkomitmen, mereka yang meyakini-Nya memegang komitmen yang sama. Tapi itu saja tidak cukup, konsistensi dalam memegang komitmen selama perjalanan hidup seringkali mengalami pasang surut. Dalam perjalanan panjang, dengan peraturan-peraturan yang sifatnya seringkali mengekang penuh larangan , terkadang manusia lupa atau sengaja melupakan komitmennya, mereka kehilangan konsistensinya. Bila sampai begitu, mereka harus rela kehilangan mimpinya, sebuah keabadian. Disini lah kita harus berjuang agar konsistensi kita dalam memegang komitmen terjaga dengan baik, hingga Tuhan mewujudkan janjinya.

Mengingat kembali mimpi – mimpi yang seharusnya menjadi abadi, terkadang bisa menjadi motivator untuk kita kembali ke jalan yang kita yakini akan membawa ke kebahagiaan yang abadi. Kembali pada komitmen, kembali ke koridor yang penuh sesak oleh halangan dan rintangan. Ke koridor yang akan membawa kita menuju keabadian, kebahagiaan tak berujung.

h1

Aku dan perbedaan : Sebuah Aforisme

20 October 2009

cake_topper_pig_goatApa yang muncul di benak anda ketika melihat gambar yang saya temukan dari sebuah blog ini. I said, So sweet. Sepasang pengantin, seekor babi dan kambing. Seketika saya teringat sebuah quote dari “Putri Cina” sebuah buku karya Sindhunata, yang isinya seperti ini : “Kita datang kedunia ini sebagai saudara/ tapi mengapa kita mesti terikat pada daging dan darah/ yang ternyata hanya memisahkan kita”.
Saya beranggapan gambar ini adalah symbol dari penyatuan sebuah perbedaan. Hal yang terlarang untuk dilakukan di negri yang majemuk ini, terlebih bila melihat doktrin – doktrin klaim kebenaran dari pihak babi maupun kambing. Berbahagialah mereka – mereka yang berhasil melintasi geo-egoisme doktrin agama dan budaya, dan memilih untuk berbahagia dengan mengikuti kata hatinya, seperti si babi dan si kambing di atas. Berbahagialah mereka yang memilih jalan cinta, dikala kaum mereka saling caci dan membenci.

Kedua mempelai diatas duduk di sebuah kue, mungkin karena persamaan selera atas kue ini lah yang mempersatukan mereka. Yang jelas buat mereka, pada level ini tidak ada lagi perbedaan. Mereka berhasil menemukan esensi dari perbedaan – perbedaan yang dibuat oleh persepsi dan keyakinan orang lain. Mereka menemukan Cinta, anugrah di jalan Tuhan yang terindah dan tidak dibatasi oleh kotak – kotak doktrin politis agama, budaya atau apapun.

Kebahagian mempelai diatas pastinya diperoleh dengan tidak mudah. Well, harga barang dengan kualitas nomor satu tentunya berbeda dengan kualitas dibawahnya. Mengapa tidak mudah ? Karena kita terlanjur hidup dalam persepsi orang lain, cara hidup kita seakan – akan sudah dipilihkan oleh orang lain dan dipaksakan secara semena – mena kepada kita tanpa izin kita, meski sering kali kita tidak sadari. Apabila mereka berkata kambing dan babi tidak boleh bersatu, maka itulah kebenaran. Vox Populis Vox Dei, itu menurut mereka.

Anna Lemon S, pernah menulis begini “ Kita dilahirkan berbeda, tapi kenapa kita mengikuti orang lain ? Kenapa kita menempatkan diri kita ? Kenapa kita menyamakan diri kita ? Kenapa kita terjebak dalam surelaisme orang lain ? “ kondisi seperti ini lah yang harus dilawan oleh tuan babi dan nyonya kambing diatas untuk mendapatkan kebahagiaannya. Mendobrak surelaisme orang lain yang dipaksakan kepada mereka.

Selamat menempuh hidup baru, Tuan Babi dan Nyonya Kambing. Selamat menikmati buah dari perjuangan dan konsistensi kalian atas cinta. Indahnya hati adalah keindahan yang abadi, tiap sudutnya melenyapkan segala dahaga dari air kehidupan. Tetaplah bersama Tuhan karena Tuhan ada dalam segala keindahan.

h1

Pencapaianku tahun 2008 ini

31 December 2008

Tahun 2008 akan segera berakhir dalam hitungan jam, lalu apa saja yang telah dicapai dalam tahun ini ? Untuk menjawab ini, sebagian banyak orang mengukurnya dengan pencapaian – pencapaian yang menempatkan mereka di posisi sosial tertentu. Jabatan, harta, rumah baru, mobil baru, projek – projek besar dll, mereka menutup tahun ini dengan penuh kebanggan.

 

Tapi pernahkah kita mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah semua pencapaian itu bisa membuat kita merasa sudah menemukan ketenangan hidup, apakah kita sudah bisa tidur dengan nyenyak? Mungkin tidak, kita ini manusia, semakin banyak hal yang kita miliki, semakin besar juga rasa takut untuk kehilangan atas segalanya. ..Baca Selengkapnya..

h1

Agama, perbedaan dan cinta

30 December 2008

Bagaimana jadinya, bila kita bersyukur atas nama Tuhan untuk anugrah-Nya, tetapi juga menampiknya pada saat yang bersamaan, atas nama agama yang katanya mendasarkan segala ajarannya pada Tuhan. Bukankah ini namanya menelan ludah sendiri. Bagaimana mungkin ini terjadi.

 

Dalam masyarakat kita, hubungan beda agama dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu untuk dilakukan, alasannya sederhana karena ajaran agama melarang itu terjadi. Alasan egosentris yang menurut saya bersifat memaksa pemeluk agama menampik berkat yang seharusnya disukuri, karena bukankah cinta itu anugrah ? Bukankah Tuhan yang meniupkan rasa kedalam hati orang – orang yang dikehendaki-Nya ? Lalu kenapa ketika rasa itu dianugrahkan pada dua insan yang kebetulan membawa label duniawi yang berbeda (baca : agama), anugrah itu harus ditampik dan dibuang jauh – jauh ? Apakah mensukuri rasa dengan menjalani anugrah yang Tuhan beri itu menjadi dosa, karena agama melarangnya? Atau akankah lebih berdosa bila kita menampik dan tidak mengakui kenikmatan anugrahnya dan mengatakan itu sebagai kesalahan Tuhan yang memberi rasa?

 

Bagi saya, sederhana saja. Penafsiran agama yang ajarannya didasarkan pada suara Tuhan berupa teks – teks suci dari masa lalu, tidak luput dari pengaruh politik, ekonomi, sejarah, kekuasaan, dan budaya dimana agama itu tumbuh dan berkembang. Berdasarkan sejarah pada masa agama – agama berebut kekuasaan dan pengaruh, seringkali teks – teks suci penuh kasih Tuhan digunakan sebagai pembenaran hal – hal kontradiktif dengan ajaran Tuhan itu sendiri bahkan sampai digunakan untuk menghalalkan penumpahkan darah. Kebodohan saya mengajarkan untuk tidak akan menggunakan penafsiran seperti ini.

 

Dalam kasus hubungan beda agama, terlepas dari perbedaan – perbedaan dan label – label duniawi lain, Tuhan telah berbicara, Tuhan telah memberikan anugrah-Nya, sudah sepatutnya kita mesukurinya, bukan menampiknya. Penafsiran hanya pendapat orang, bukan suara Tuhan.

h1

BUNGA

30 June 2008

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan
hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan
kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari
ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun
perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai
mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit
sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia
mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini
bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam
ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding
waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meninggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari
istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja
aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk
meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi
hari ini….

STOP KEKERASAN PADA WANITA…!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.