Feeds:
Posts
Comments

Tahun 2008 akan segera berakhir dalam hitungan jam, lalu apa saja yang telah dicapai dalam tahun ini ? Untuk menjawab ini, sebagian banyak orang mengukurnya dengan pencapaian – pencapaian yang menempatkan mereka di posisi sosial tertentu. Jabatan, harta, rumah baru, mobil baru, projek – projek besar dll, mereka menutup tahun ini dengan penuh kebanggan.

 

Tapi pernahkah kita mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah semua pencapaian itu bisa membuat kita merasa sudah menemukan ketenangan hidup, apakah kita sudah bisa tidur dengan nyenyak? Mungkin tidak, kita ini manusia, semakin banyak hal yang kita miliki, semakin besar juga rasa takut untuk kehilangan atas segalanya. ..Baca Selengkapnya..

Bagaimana jadinya, bila kita bersyukur atas nama Tuhan untuk anugrah-Nya, tetapi juga menampiknya pada saat yang bersamaan, atas nama agama yang katanya mendasarkan segala ajarannya pada Tuhan. Bukankah ini namanya menelan ludah sendiri. Bagaimana mungkin ini terjadi.

 

Dalam masyarakat kita, hubungan beda agama dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu untuk dilakukan, alasannya sederhana karena ajaran agama melarang itu terjadi. Alasan egosentris yang menurut saya bersifat memaksa pemeluk agama menampik berkat yang seharusnya disukuri, karena bukankah cinta itu anugrah ? Bukankah Tuhan yang meniupkan rasa kedalam hati orang – orang yang dikehendaki-Nya ? Lalu kenapa ketika rasa itu dianugrahkan pada dua insan yang kebetulan membawa label duniawi yang berbeda (baca : agama), anugrah itu harus ditampik dan dibuang jauh – jauh ? Apakah mensukuri rasa dengan menjalani anugrah yang Tuhan beri itu menjadi dosa, karena agama melarangnya? Atau akankah lebih berdosa bila kita menampik dan tidak mengakui kenikmatan anugrahnya dan mengatakan itu sebagai kesalahan Tuhan yang memberi rasa?

 

Bagi saya, sederhana saja. Penafsiran agama yang ajarannya didasarkan pada suara Tuhan berupa teks – teks suci dari masa lalu, tidak luput dari pengaruh politik, ekonomi, sejarah, kekuasaan, dan budaya dimana agama itu tumbuh dan berkembang. Berdasarkan sejarah pada masa agama – agama berebut kekuasaan dan pengaruh, seringkali teks – teks suci penuh kasih Tuhan digunakan sebagai pembenaran hal – hal kontradiktif dengan ajaran Tuhan itu sendiri bahkan sampai digunakan untuk menghalalkan penumpahkan darah. Kebodohan saya mengajarkan untuk tidak akan menggunakan penafsiran seperti ini.

 

Dalam kasus hubungan beda agama, terlepas dari perbedaan – perbedaan dan label – label duniawi lain, Tuhan telah berbicara, Tuhan telah memberikan anugrah-Nya, sudah sepatutnya kita mesukurinya, bukan menampiknya. Penafsiran hanya pendapat orang, bukan suara Tuhan.

BUNGA

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan
hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan
kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari
ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun
perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai
mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit
sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia
mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini
bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam
ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding
waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meninggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari
istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja
aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk
meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi
hari ini….

STOP KEKERASAN PADA WANITA…!!!

Kekerasan atas nama agama bukanlah hal baru dalam riwayat perjalanan agama – agama dunia. Kekerasan tidak hanya terjadi antar pemeluk agama yang berbeda, benturan – benturan yang berujung kekerasan juga terjadi pada mereka yang memeluk agama yang sama. Sebut saja agama – agama besar dunia misalnya Islam, Protestant, Katolik, Hindu, Budha semuanya pernah mempunyai sejarah akan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama berangkat dari perbedaan dalam memahami kitab suci, Tuhan, agama itu sendiri. Pebedaan – perbedaan pemahaman yang bermula dari ahli – ahli tafsir, ulama – ulama, para ahli kitab( dalam berbagai agama, hanya mereka yang berhak menafsirkan kitab suci )ini kemudian meluas ke akar rumput, yang kemudian melahirkan fanatisme – fanatisme sektarian dan semakin melembaga.  Fanatisme dan ketiadaan pemahaman tentang esensi beragama dan berTuhan pada level akar rumput inilah, yang membuat pemeluk agama melihat agama lain dari kacamata kepicikan yang sempit, sehingga cenderung merendahkan agama lain atau tafsir agama yang berbeda. Bagi mereka, tindakan atas nama agama tidak pernah salah, karena Tuhan dan kebenaran adalah monopoli mereka. ..Baca Selengkapnya..

Oleh: Kwik Kian Gie

Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule. ..Selengkapnya

Dalam menjalani kehidupan ini, seringkali kita merasa telah memilih jalan yang salah, merasa belok ditikungan yang salah, kemudian menyalahkan-nya (baca:diri sendiri) atas segala bentuk ketidakenakkan yang kita terima. Namun mau tidak mau, itulah hidup, naik turun, jatuh bangun dan kelokan – kelokan dalam hidup ini lah yang membuat hidup ini menjadi lebih menarik untuk dijalani. Proses naik turun ini yang membuat kita menjadi lebih kuat, jatuh bangun ini pula yang kelak akan menunjukkan seberapa tangguh kita dalam mejalani dan menghadapi kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu, bila ternyata belokan dan jalan yang salah ini lah yang dikemudian hari akan menghatarkan kita pada sebuah kebahagiaan, pada sebuah keberhasilan dalam hidup.

Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri, selalu optimis dan terus berjuang !!

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah seorang wanita yang tidak akan pernah mencintai siapapun kecuali seorang pejuang.

Bekerja

Dalam bekerja, menjadi kaya adalah bukan tujuan utama, karena bila menjadi kaya dijadikan sebagai tujuan, maka hidup ini akan kehilangan arti yang sebenarnya, kita hanya akan tenggelam dalam pengejaran – pengejaran yang sia – sia, pada akhirnya kita hanya akan menjadi budak dari apa yang kita kejar, dan kekosongan lah yang kita dapat.

Yaa ini hanya sekedar opini yang belum tentu ada yang setuju, karena cara pandang orang terhadap hidup akan sangat berbeda – beda. Namun begitu ini sedikit pandangan saya akan hidup dan bekerja.

Yang paling penting dari bekerja adalah, menyadari takdir cinta Ilahi yang menjadikan kita hidup dan bisa memenuhi kebutuhan hidup ini dengan segala sumber daya yang Dia berikan sehingga kita bisa bekerja. Berikutnya yang tak kalah penting dalam bekerja, adalah apapun yang kita lakukan hendaknya bermanfaat untuk orang lain. Bila Tuhan berkenan memberikan rizki lebih atas apa yang telah kita lakukan, maka kembalikanlah kepada-Nya dengan keikhlasan. Menjalani takdir hidup untuk kita dan untuk orang lain dengan keihlasan atas nama Tuhan, itulah esensi dari bekerja. Jadilah kita manusia dengan hidup yang penuh arti. Maka jadilah bekerja itu sebagai ibadah.

Caraku bahagia

Sering kali kita merasa diri kita sedang menderita, depresi atau stress, namun kita tidak menyadari apa yang menyebabkan itu terjadi, bahkan mungkin kita tidak mau tahu. Lalu bagaimana cara kita untuk mengatasi hal ini. Karena tentu saja kita tidak mau selalu dibebani oleh hal – hal yang sangat menguras tenaga itu.

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengidentifikasi masalahnya, kita harus mengenali perasaan – perasaan negative di dalam diri kita sendiri. Buat beberapa orang melakukan ini tidak lah mudah, kenapa? Karena untuk mengenali perasaan – perasaan negative didalam diri itu butuh kejujuran pada diri sendiri dan butuh keberanian untuk mengakui keberadaannya. Kebanyakan orang lebih memilih untuk menyangkal keberadaannya dengan membohongi dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, karena mereka terlalu takut mendapati bahwa dalam dirinya ada kesalahan. Yang diperlukan disini adalah keberanian, kejujuran dan kesadaran penuh untuk menghadapi perasaan negatif didalam diri. Ingat sebuah penyakit tidak akan dapat diobati kalau tidak dikenali lebih dulu. Lalu perasaan negatif seperti apa yang harus diidentifikasi? Apa saja, seperti bad mood, sakit hati, perasaan bersalah, trauma dan lain – lain. Kenalilah mereka terlebih dahulu. ..Selengkapnya

Sampai saat ini, dikarenakan sosialisasi dari PLN yang dirasakan sangat kurang, masih banyak pengguna layanan listrik dari PLN yang masih belum mengerti atau bahkan belum tahu tentang program insentif dan disinsentif yang mulai diterapkan pada semua pelanggannya terhitung bulan April untuk tagihan bulan Mei.

Secara garis besar, program insentif dan disinsentif ini merupakan cara PLN memaksa pelanggannya untuk menghemat penggunaan listrik, dengan cara memberi denda (disinsentif )pada pelanggan yang menggunakan listrik lebih dari ketentuan yang mereka tetapkan, dan memberikan potongan ( insentif ) tagihan listrik pada pelanggan yang menggunakan listrik dibawah ketentuan.

Menurut saya ini hanya akal – akalan PLN untuk mendapatkan pendapatan lebih, dengan cara “kreatif”, mengapa dengan cara seperti ini? Karena menurut KEPRES RI No.104 Tahun 2003 tentang harga jual tenaga listrik yang dijual oleh PLN, PLN belum bisa menaikkan TDL ( Tarif Dasar Listrik ). Memang munculnya program ini dipicu oleh kenaikan harga BBM yang merupakan bahan utama pembangkit listrik di Indonesia. Tapi bukankah ini kesalahan PLN yang tetap menggunakan BBM untuk menjalankan pembangkitnya, padahal masih banyak sumber daya alam yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik, mulai dari teknologi micro hidro, sampah, surya, panas bumi, angin dll, yang masa ketersediaannya lebih lama dari minyak bumi. Program ini membuat kita harus ikut menanggung ketidakmampuan PLN untuk menjaga ketersediaan listrik di negara ini. Tapi sudahlah, apa gunanya menggerutu. Lebih baik saya jelaskan bagaimana program ini dilaksanakan, agar orang – orang mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan agar tagihan listriknya tidak membengkak.

Berikutnya : Garis besar program penghematan penggunaan listrik

Pilkada Jabar sebentar lagi akan dilaksanakan, berbagai cara dilakukan oleh para cagub dan pasangannya untuk menarik simpati masyarakat untuk memilih mereka. Mulai dari penempelan poster – poster yang menurut saya tidak lebih dari perbuatan mengotori lingkungan, penjualan sembako murah yang hanya dilakukan pada masa kampanye, kunjungan ke daerah – daerah bencana, hingga memasang iklan di surat kabar daerah dan nasional. Satu yang tidak pernah saya lihat dalam kampanye mereka yaitu debat terbuka, jangankan itu visi da misi mereka saja tidak jelas, isinya hanya serangkaian kata – kata klise yang ideal. Pelaksanaannya? Jangan tanya, dapat dipastikan itu hanya janji belaka, seperti pada kampanye lain.

Di salah satu surat kabar nasional bahkan menyatakan bahwa para cagub ini tidak punya konsep yang jelas untuk membangun Jabar. Sepertinya pilkada ini hanya digunakan untuk menempatkan orang – orang yang secara politik dianggap pantas untuk mengisi kekosongan jabatan. Pada akhirnya pilkada berubah menjadi lahan perebutan oleh pihak – pihak yang mempunyai kepentingan politik dan ekonomi atasnya. Mereka hanya mendambakan kuasa, demi diri pribadi dan kelompoknya, bukan demi rakyatnya. Dalam menjalankan perannya sebagai gubernur kelak, siapapun yang terpilih nanti, mungkin tidak lebih dari hanya meneruskan pekerjaan harian dari gubernur sebelumnya.

Selengkapnya

Older Posts »