h1

Senandika Solitude

24 April 2014

solitude Seperti Engkau seperti aku,

ada dan tiada dalam rahim solitude

berjalan berbayang separuh resah

rindu untuk dikenali.

h1

Keindahan itu….

30 April 2013
Keindahan ini pertama-tama adalah abadi; ia tidak pernah diwujudkan maupun dimatikan; tak mengalami pasang surut; kemudian ia bukan indah sebagian dan jelek sebagian,bukan indah pada suatu saat dan jelek pada saat lain,bukan indah dalam kaitannya dengan hal ini dan jelek dengan hal itu, tidak beraneka menurut keragaman pemerhatinya; tidak pula keindahan ini akan tampil di dalam imajinasi seperti seperti kecantikan seraut wajah atau tangan atau sesuatu yang bersifat jasadiah, atau seperti keindahan yang bersemayam di dalam sesuatu di luar dirinya sendiri, apakah itu makhluk hidup atau bumi atau langit atau apapun lainnya; dia akan melihatnya sebagai yang absolut, ada sendirian di dalam dirinya, unik, abadi. - The Symposium – Plato
Keindahan, jauh dalam lubuk kesadaran setiap manusia, pasti bisa merasakan keberadaannya. Bertahun – tahun manusia melakukan perjalanan untuk mencarikan bentuk untuknya, bentuk yang diharapkan akan lebih mudah untuk dimengerti, lebih mudah dikenali oleh keterbatasan inderawinya. Dalam pencariannya, tidak banyak orang yang berhasil menemukan apa yang dicari.
Secara lahiriah, naluri manusia terbiasa mengenali segala sesuatu yang memiliki bentuk fisik, bentuk yang bisa dikenali inderanya. Keindahan, karena bukan benda fisikal dan sulit untuk diberi bentuk, maka ia seringkali di asosiasikan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan nafsu manusia akan hal – hal bendawi, hal – hal yang dapat dirasakan oleh panca indera.
Sayang hal – hal bendawi itu tidak pernah ada yang abadi, paling tidak, hal – hal seperti itu selalu terkait pada ruang dan waktu, terkait pada awal dan akhir, pada cipta dan tiada. Pada akhhirnya, manusia harus melakukan pencariannya kembali ketika benda – benda atau apapun yang diasosiasikannya dengan keindahan  telah sampai diakhir masa keberadaanya. Kehampaan itu datang lagi dan lagi dan lagi.
Ruang manusia yang dibatasi oleh indera tidak berarti manusia tidak akan mampu untuk menemukan keindahan. Seperti kata Plato dalam The Symposium, keindahan itu justru berada dalam diri, berdisi sendiri sebagai entitas yang unik. Hal – hal bendawi yang dikenali indera, idealnya dijadikan sebagai jendela, perantara, antara yang fisik dan rasa. Bukan membuat diri malah terjebak dalam perangkap pesonanya, seperti kebanyakan manusia modern.
Seperti sebuah hadist Qudsi “Aku rindu untuk dikenali, karena itu Aku ciptakan makhluk-makhluk agar Aku dikenali.” Makhluk bukan tujuan, tapi media untuk mengenali Dia. Seperti juga keindahan yang dimaksud oleh Plato.
h1

Anak semua bangsa – A Quote

24 July 2012

Memang bukan sesuatu yang baru, jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat di tengah tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti.

Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh pada pohon.

- Pramoedya – Anak Semua Bangsa

h1

solitude in rain

8 January 2012

hamparan waktu berjejak aku
dalam ruang kubus berbatas senja
sebuah solitude di padang jiwa;
bukan kesendirian, hanya penantian
untuk sebuah hujan sore
berteman secangkir teh, sehangat kekasih

h1

Jakarta dan Nurani

2 August 2011

“Oy, tanggung jawab nih, naikkin kursinya, lw kan yang berentiin. Nyusahin aja, dasar goblok, gw gak ada untungnya ngangkut beginian, bego, nyusahin. Malah nyengir lagi lw, bego. “

Umpatan itu terlontar dari seorang kernet kopaja, yang enggan menaikkan penumpang cacat dengan kursi roda. Bermula dari rasa kasihan seorang teman melihat orang tua dengan kursi roda, berusaha keras untuk menyetop kopaja, dan tidak satupun dari mereka bersedia untuk berhenti. Teman saya berinsiatif untuk membantu bapak tua  itu, dan dia berhasil. Dia memapah bapak tua itu naik kopaja, begitu juga penumpang didalamnya, mereka dengan sigap membantunya naik, dan menaikkan kursi rodanya.  Namun kami tidak menyangka, kernet kopaja tersebut akan melontarkan makian kasar nan kotor seperti itu.

Entah apa yang dipikirkan si kernet, enggan memapah orang cacat ? toh dia tidak melakukan apa – apa ketika teman saya dan penumpang lain saling bantu menaikkan si bapak tua dan kursi rodanya. Takut tidak dapat bayaran ? saya kira tidak, saya bisa lihat si bapak tua itu bukan tipe pengemis, yang mengandalkan kecacatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Satu yang saya dan teman saya sepakati. Ketiadaan nurani lah yang membuat si kernet berbuat demikian. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk membantu, alih – alih membantu, dia malah melontarkan makian. Beruntung teman saya hanya membalasnya dengan senyum, meski makian terus terlontar.

Mungkin kerasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit menggerus habis nurani manusia – manusia didalamnya, mengeraskan hatinya, dan menyuburkan naluri kekerasan? Atau kerasnya Jakarta hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh lemahnya mental manusia – manusianya yang tidak bisa menjaga liarnya hewan – hewan di dalam dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan, apakah kita mengijinkan Tuhan hadir dalam diri atau tidak.

Saya percaya di tengah  – tengah Jakarta yang katanya kejam dan keras, masih banyak orang – orang bernurani, yang bisa tetap tersenyum ketika didera caci maki, yang dengan hati membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di dunia.

h1

aforisme luka

17 April 2011

Seperti malam yang tak pernah kembali,
dikala hujan ilalang tumbuh untuk mati,
sepi, kembangkan asingku dibawah rembulan berkabut senja,
bermekaran, menyaru luka…

h1

between sanity and insanity

21 October 2010

There are a certain eras which are too complex, too deafened by contradictory historical and intellectual experiences, to hear the voice of sanity. Sanity becomes compromise, evasions, a lie.

–  Susan Sontag

 

Sanity atau kewarasan, merupakan sikap umum yang diharapkan dari setiap individu oleh individu lain, dalam interaksinya dengan dunia. Kewarasan juga kerap dijadikan sebagai ukuran penerimaan individu di lingkungannya. Tapi yang mengganggu pikiran saya adalah, apa, darimana dan oleh siapa batasan – batasan kewarasan itu dibuat, apakah perilaku yang dianggap tidak waras itu sama dengan tidak baik ? apa yang mendorong individu untuk berlaku waras ?

Menurut saya, kewarasan bukan tool yang tepat untuk menilai individu, mengapa ? karena seperti yang dikatakan oleh Susan Sontag dalam kutipan diatas, bahwa sanity atau kewarasan itu merupakan hasil kompromi, bahkan bisa juga menjadi sebuah kebohongan. Batasan kewarasan ditentukan oleh “benar” yang majemuk, dan pada akhirnya “benar” yang dikompromikan. Agamawan, politisi, ekonom, ilmuwan, semuanya berlomba – lomba mengclaim kebenaran. Nama – nama nabi, orang – orang suci, dan filsuf, tiba – tiba saja menjadi nama produk yang di jejalkan di etalase – etalase toko buku, kelas – kelas, ruang diskusi dan mimbar, seperti produk – produk consumer lainnya. Pada akhirnya benar yang mana yang akan digunakan untuk menilai ? individu – individu dalam lingkungan sosial akan mengkompromikan kebenaran – kebenaran yang ada sesuai dengan angka mayoritasnya.

Dengan begitu, menjadi waras adalah menjadi apa yang diinginkan oleh kebenaran yang dikompromikan berdasarkan kuantiti mayoritas. Dan ketidak warasan adalah kebalikannya. Lalu apakah menjadi tidak waras ini sama dengan tidak baik ? tentu tidak sama sekali. Karena benar yang dikompromikan bukan benar yang sejati. Coba kita lihat nabi – nabi dan orang – orang besar, kebanyakan dari mereka di kategorikan sebagai orang tidak waras pada jamannya. Karena apa yang mereka apa yang mereka bawa dan yang mereka lakukan bertentangan dengan compromised truth pada saat itu, ditempat itu.

Bagi individu – individu yang selalu berusaha untuk menjadi waras,menjadi apa yang diinginkan dunia, seringkali membohongi dirinya sendiri demi penerimaan masyarakat atasnya. Kewarasan menjadi sebuah kebohongan dan pelarian dari keinginan dan asumsi kebenaran sejati individu. Jadi apa salahnya menjadi tak waras dalam lingkungan sosial juga belum tentu benar. Karena kebenaran sejati itu tidak ada, yg ada hanya suara hati dari kesejatian hidup, dan kita tidak ingin kewarasan dari benar yang terkompromikan ini merengut kebenaran dari suara hati sejati yang kita yakini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.