<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kronologis Kasus Ahmadiyah Manis Lor Kuningan</title>
	<atom:link href="http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/</link>
	<description>just a piece of mind</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2009 03:54:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: achnoor</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-62</link>
		<dc:creator>achnoor</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 14:39:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-62</guid>
		<description>Sekarang biarkan Ahmadiyah melanggar SKB 3 Mentri itu, biar Presiden dapatkan delik buat bubarkan Ahmadiyah dengan segeraaaaaaaaaaa !!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang biarkan Ahmadiyah melanggar SKB 3 Mentri itu, biar Presiden dapatkan delik buat bubarkan Ahmadiyah dengan segeraaaaaaaaaaa !!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: achnoor</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-61</link>
		<dc:creator>achnoor</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 14:37:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-61</guid>
		<description>USULAN UNTUK PENYELESAIAN MASALAH AHMADIYAH
Untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah secara lokal maupun secara nasional di Indonesia, kami mengajukan terapi dan solusi sebagai berikut :
1.	Penyebab mendasar adanya konflik antara Ahmadiyah dan Umat Islam adalah bahwa ajaran Ahmadiyah dianggap oleh mayoritas Umat Islam telah menodai kemurnian ajaran Agama Islam yang sangat mendasar dan prinsipil. Sementara hukum penodaan terhadap ajaran agama (terutama agama Islam) sudah jelas dalam ajaran agama Islam itu sendiri dan telah diatur dalam undang-undang (No. 1 PNPS Th. 1965).
2.	Ahmadiyah, dalam usianya yang sudah lebih seratus (100) tahun ternyata tidak mulus diterima oleh umat Islam secara umum, malah mendapat penentangan yang hebat luar biasa, ditolak di kalangan negara-negara mayoritas muslim (dunia Islam), bahkan sempat berdarah-darah di India dan Pakistan di mana tempat lahirnya Ahmadiyah itu sendiri.
3.	Secara empirik sejarah, Ahmadiyah tidak pernah akur dengan mayoritas umat Islam dan selalu dianggap golongan atau sekte penyesat umat Islam.
4.	Dalam sejarah keagamaan ternyata ketika terjadi dalam satu agama terdapat perbedaan yang sangat prinsip dan mendasar, bahkan melahirkan konflik yang berkepanjangan, maka solusi paling aman dan nyaman adalah pisah agama. Hal ini (maaf) seperti yang telah terjadi di kalangan agama Kristen, secara resmi dan hukum sekarang telah menjadi dua (2) agama terpisah, yaitu agama Katholik dan Agama Protestan.
5.	Kita sepakat bahwa : ”Jaminan perlindungan hukum dan hak asasi manusia untuk kebebasan beragama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya”, adalah mutlak harus diwujudkan dan suatu keniscayaan, termasuk juga jaminan beragama dan beribadat bagi Ahmadiyah. Namun di sisi lainpun  ”Jaminan perlindungan hukum terhadap kemurnian ajaran suatu agama dari tangan-tangan kotor penodaan” pun perlu ada kepastian hukum, untuk menjamin tidak adanya ketersinggungan perasaan keagamaan dan gangguan kehidupan beragama yang mengakibatkan terjadinya konflik horizontal yang berkepanjangan.
6.	Dalam pasal 28(J) ayat 2 UUD 45 hasil amandeman menyatakan bahwa : ”Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrtis.
7.	Penanganan Ahmadiyah harus dengan tegas dan secara pro aktif dari Pemerintah atau pihak yang berwenang, karena kalau pemerintah diam maka yang bergerak ummat Islam sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan potensinya. Oleh karena posisi Ahmadiyah dalam aqidah Islamiyah sudah jelas dengan turunnya fatwa Liga Muslim Internasional ataupun secara Nasional melalui MUI, maka Ahmadiyah harus dibubarkan dan dilarang di Indonesia dengan dasar pendekatan hukum internal ummat Islam dan Ajaran Islam sendiri. Hukum positif sebagai legalitas formalnya. 
8.	SKB tentang Ahmadiyah ini akan efektif manakala JAI mau memutuskan hubungannya dengan Kholifah mereka di Inggris, sebab JAI adalah bagian dari kekhalifahan Ahmadiyah di Inggris. Tanpa pemutusan dengan Kholifahnya di Inggris, maka ajaran Ahmadiyah segalanya akan sama dengan ajaran Kholifahnya di Inggris. Hirarki kepemimpinan Ahmadiyah Qodianiyah sangat jelas sekali, mirip-mirip dengan System Kepausan dalam Agama Katholik atau system Imamah sekte Syi’ah dalam Islam. 
9.	Kalau dengan solusi di atas tidak mempan juga maka alternatif lain, supaya Ahmadiyah tenang dalam menjalankan ajaran agamanya dan mendapat jaminan hukum yang pasti, serta diperlakukan dengan adil dan tidak didiskrimatifkan oleh Pemerintah, maka lebih baik Ahmadiyah dibentuk sebagai AGAMA baru di Indonesia (mungkin namanya Agama Ahmadiyah), karena unsur-unsur pendukungnya sudah cukup lengkap. Antara lain Nabi dan Rasulnya ada (Mirza Ghulam Ahmad), kitab sucinya bisa gabungan dari Al-Quran dan Tadzkirah (seperti Al-Kitabnya Kristen, gabungan dari Taurat Musa dan Injil Isa) karena Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengakui bahwa wahyu-wahyu yang turun kepada dia kedudukannya setara dengan wahyu dalam Al-Quran.
10.	Alhamdulillah, di Kab. Kuningan merupakan realita contoh telah terciptanya kerukunan hidup beragama, enam agama ada di Kab. Kuningan bisa hidup berdampingan. Dengan adanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), permasalahan yang terjadi pada lintas umat beragama dapat diselesaikan dengan baik. Maka apabila Ahmadiyah telah resmi menjadi satu Agama, dapat bergabung di FKUB dan mendapat perlindungan pasti secara hukum untuk melakukan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya serta akan mendapat perlindungan hukum pula terhadap aset-aset Ahmadiyah, termasuk tempat-tempat ibadah Ahmadiyah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>USULAN UNTUK PENYELESAIAN MASALAH AHMADIYAH<br />
Untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah secara lokal maupun secara nasional di Indonesia, kami mengajukan terapi dan solusi sebagai berikut :<br />
1.	Penyebab mendasar adanya konflik antara Ahmadiyah dan Umat Islam adalah bahwa ajaran Ahmadiyah dianggap oleh mayoritas Umat Islam telah menodai kemurnian ajaran Agama Islam yang sangat mendasar dan prinsipil. Sementara hukum penodaan terhadap ajaran agama (terutama agama Islam) sudah jelas dalam ajaran agama Islam itu sendiri dan telah diatur dalam undang-undang (No. 1 PNPS Th. 1965).<br />
2.	Ahmadiyah, dalam usianya yang sudah lebih seratus (100) tahun ternyata tidak mulus diterima oleh umat Islam secara umum, malah mendapat penentangan yang hebat luar biasa, ditolak di kalangan negara-negara mayoritas muslim (dunia Islam), bahkan sempat berdarah-darah di India dan Pakistan di mana tempat lahirnya Ahmadiyah itu sendiri.<br />
3.	Secara empirik sejarah, Ahmadiyah tidak pernah akur dengan mayoritas umat Islam dan selalu dianggap golongan atau sekte penyesat umat Islam.<br />
4.	Dalam sejarah keagamaan ternyata ketika terjadi dalam satu agama terdapat perbedaan yang sangat prinsip dan mendasar, bahkan melahirkan konflik yang berkepanjangan, maka solusi paling aman dan nyaman adalah pisah agama. Hal ini (maaf) seperti yang telah terjadi di kalangan agama Kristen, secara resmi dan hukum sekarang telah menjadi dua (2) agama terpisah, yaitu agama Katholik dan Agama Protestan.<br />
5.	Kita sepakat bahwa : ”Jaminan perlindungan hukum dan hak asasi manusia untuk kebebasan beragama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya”, adalah mutlak harus diwujudkan dan suatu keniscayaan, termasuk juga jaminan beragama dan beribadat bagi Ahmadiyah. Namun di sisi lainpun  ”Jaminan perlindungan hukum terhadap kemurnian ajaran suatu agama dari tangan-tangan kotor penodaan” pun perlu ada kepastian hukum, untuk menjamin tidak adanya ketersinggungan perasaan keagamaan dan gangguan kehidupan beragama yang mengakibatkan terjadinya konflik horizontal yang berkepanjangan.<br />
6.	Dalam pasal 28(J) ayat 2 UUD 45 hasil amandeman menyatakan bahwa : ”Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrtis.<br />
7.	Penanganan Ahmadiyah harus dengan tegas dan secara pro aktif dari Pemerintah atau pihak yang berwenang, karena kalau pemerintah diam maka yang bergerak ummat Islam sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan potensinya. Oleh karena posisi Ahmadiyah dalam aqidah Islamiyah sudah jelas dengan turunnya fatwa Liga Muslim Internasional ataupun secara Nasional melalui MUI, maka Ahmadiyah harus dibubarkan dan dilarang di Indonesia dengan dasar pendekatan hukum internal ummat Islam dan Ajaran Islam sendiri. Hukum positif sebagai legalitas formalnya.<br />
8.	SKB tentang Ahmadiyah ini akan efektif manakala JAI mau memutuskan hubungannya dengan Kholifah mereka di Inggris, sebab JAI adalah bagian dari kekhalifahan Ahmadiyah di Inggris. Tanpa pemutusan dengan Kholifahnya di Inggris, maka ajaran Ahmadiyah segalanya akan sama dengan ajaran Kholifahnya di Inggris. Hirarki kepemimpinan Ahmadiyah Qodianiyah sangat jelas sekali, mirip-mirip dengan System Kepausan dalam Agama Katholik atau system Imamah sekte Syi’ah dalam Islam.<br />
9.	Kalau dengan solusi di atas tidak mempan juga maka alternatif lain, supaya Ahmadiyah tenang dalam menjalankan ajaran agamanya dan mendapat jaminan hukum yang pasti, serta diperlakukan dengan adil dan tidak didiskrimatifkan oleh Pemerintah, maka lebih baik Ahmadiyah dibentuk sebagai AGAMA baru di Indonesia (mungkin namanya Agama Ahmadiyah), karena unsur-unsur pendukungnya sudah cukup lengkap. Antara lain Nabi dan Rasulnya ada (Mirza Ghulam Ahmad), kitab sucinya bisa gabungan dari Al-Quran dan Tadzkirah (seperti Al-Kitabnya Kristen, gabungan dari Taurat Musa dan Injil Isa) karena Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengakui bahwa wahyu-wahyu yang turun kepada dia kedudukannya setara dengan wahyu dalam Al-Quran.<br />
10.	Alhamdulillah, di Kab. Kuningan merupakan realita contoh telah terciptanya kerukunan hidup beragama, enam agama ada di Kab. Kuningan bisa hidup berdampingan. Dengan adanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), permasalahan yang terjadi pada lintas umat beragama dapat diselesaikan dengan baik. Maka apabila Ahmadiyah telah resmi menjadi satu Agama, dapat bergabung di FKUB dan mendapat perlindungan pasti secara hukum untuk melakukan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya serta akan mendapat perlindungan hukum pula terhadap aset-aset Ahmadiyah, termasuk tempat-tempat ibadah Ahmadiyah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadan sudrajat</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-59</link>
		<dc:creator>dadan sudrajat</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 07:07:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-59</guid>
		<description>kepada sudara-saudaraku sebangsa dan setanah air( pengikut jemaat ahmadiyah indonesia) setelah saya banyak membaca artike-artikel tentang ajaran ahmadiyah dan membaca kitab tazkirah banyak hal-hal yang diluar aturan islam dan bahkan akan membawa kita kejalan yang sesat dan menyesatkan oleh karena itu marilah kita kembali ke jalan yang telah di atur dalam Al Qur&#039;an dan Al hadist. yang telah yakin kebenarannya.
pada kenyataannya setelah saya berbaur dengan pengikut JAI untuk mengetahui kebenaran ajaran tersebut ternyat hampir 75% hanya kebohongan yang di buat-buat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kepada sudara-saudaraku sebangsa dan setanah air( pengikut jemaat ahmadiyah indonesia) setelah saya banyak membaca artike-artikel tentang ajaran ahmadiyah dan membaca kitab tazkirah banyak hal-hal yang diluar aturan islam dan bahkan akan membawa kita kejalan yang sesat dan menyesatkan oleh karena itu marilah kita kembali ke jalan yang telah di atur dalam Al Qur&#8217;an dan Al hadist. yang telah yakin kebenarannya.<br />
pada kenyataannya setelah saya berbaur dengan pengikut JAI untuk mengetahui kebenaran ajaran tersebut ternyat hampir 75% hanya kebohongan yang di buat-buat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadan sudrajat</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-58</link>
		<dc:creator>dadan sudrajat</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 06:54:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-58</guid>
		<description>saya setuju dengan perkataan ketua umum muhamadiyah : ahmadiyah itu ibaratnya tamu yang sudah ada di pekarangan rumah tinggal kita menyingkapinya mau di persilahkan masuk atau mau di usir kalau tidak mau dua-duanya yang anggap saja maling alis garong yang harus kita laporin ke polisi atau dihakimi masa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan perkataan ketua umum muhamadiyah : ahmadiyah itu ibaratnya tamu yang sudah ada di pekarangan rumah tinggal kita menyingkapinya mau di persilahkan masuk atau mau di usir kalau tidak mau dua-duanya yang anggap saja maling alis garong yang harus kita laporin ke polisi atau dihakimi masa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abeinhere</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-48</link>
		<dc:creator>abeinhere</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 14:33:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-48</guid>
		<description>&quot;Kebenaran&quot; hanyalah MUTLAK milik Allah SWT semata, manusia hanya sebatas pada pemahaman kebenaran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kebenaran&#8221; hanyalah MUTLAK milik Allah SWT semata, manusia hanya sebatas pada pemahaman kebenaran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: permana_tingal</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-35</link>
		<dc:creator>permana_tingal</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 02:49:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-35</guid>
		<description>Kok ada emoticons nya yaa...
Maaf atas kesalahannya.

Pustaka sufi: www.gagakmas.org</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kok ada emoticons nya yaa&#8230;<br />
Maaf atas kesalahannya.</p>
<p>Pustaka sufi: <a href="http://www.gagakmas.org" rel="nofollow">http://www.gagakmas.org</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: permana_tingal</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-34</link>
		<dc:creator>permana_tingal</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 02:48:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-34</guid>
		<description>From : permana_tingal@yahoo.com

Berikut Ayat-ayat Alqur&#039;an yang menjelaskan akan pentingnya makrifat/kenal kepada Allah SWT.

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh”.

Dari kalimat tersebut dapat di tegaskan bahwa kita dapat menyaksikan Tuhan, bila dikehendaki-Nya dan atas seizing-Nya. Dan shalat kita benar benar seperti apa yang di ucapkan oleh mulut kita.

Al-Israa (17 ayat 72) :

“Dan barang siapa yang di dunia ini buta maka di Akhirat pun lebih buta dan sesat jalan”.

Al-Israa (17 ayat 1) :

“Maha Suci Alloh yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aghso (Maitul Magdis) yang kami berkahi sekelilingnya agar kami memperlihatkan sebagian tanda tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Al-Naml (27 ayat 40) :

“Dia berkata : Saya bisa membawamu kapada-Nya dalam sekejap mata” Dan tatkala ia melihat singasana berada pada dirinya, ia berkata “Inilah karunia Tuhanku, supaya Dia mencobaku, apa aku berterimakasih, maka ia berterimasih pada Rohnya sendiri, dan siapa yang tidak berterimakasih maka sesungguhnya bagi dirinya Alloh adalah berkecukupan lagi terhormat”.

Al-Ankabut (29 ayat 5,23) :

Barang siapa yang mengharap / bertekad ingin menemui Alloh oleh Alloh pada saat yang tertentu pasti akan tiba, dan Dia adalah Maha mendengar lagi Mengetahui.

Dan orang-orang yang kafir kepada pekabaran (kabar) Alloh dan menolak serta tidak percaya untuk menemui Tuhannya, mereka itu berputus harapan dari rakhmat-Ku, dan untuk mereka siksaan yang amat pedih.

Al-Kahfi (18 ayat 103-104-105 ) : 

“Katakanlah : Apakah akan kami berituhukan kapadamu tentang orang-orang amat rugi perbuatannya ?”

“Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang baik”.

“Meraka itu ialah orang-orang yang kufur (ingkar) terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur) terhadap perjumpaan denga-Nya. Maka hapuslah amalan- amalan mereka. Dan kami tidak adakan timbangan bagi mereka pada hatri kiamat.


Yunus (10 ayat 7 dan 8) :

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami”.

“Meraka itulah tempatnya neraka, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>From : <a href="mailto:permana_tingal@yahoo.com">permana_tingal@yahoo.com</a></p>
<p>Berikut Ayat-ayat Alqur&#8217;an yang menjelaskan akan pentingnya makrifat/kenal kepada Allah SWT.</p>
<p>“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh”.</p>
<p>Dari kalimat tersebut dapat di tegaskan bahwa kita dapat menyaksikan Tuhan, bila dikehendaki-Nya dan atas seizing-Nya. Dan shalat kita benar benar seperti apa yang di ucapkan oleh mulut kita.</p>
<p>Al-Israa (17 ayat 72) :</p>
<p>“Dan barang siapa yang di dunia ini buta maka di Akhirat pun lebih buta dan sesat jalan”.</p>
<p>Al-Israa (17 ayat 1) :</p>
<p>“Maha Suci Alloh yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aghso (Maitul Magdis) yang kami berkahi sekelilingnya agar kami memperlihatkan sebagian tanda tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.</p>
<p>Al-Naml (27 ayat 40) :</p>
<p>“Dia berkata : Saya bisa membawamu kapada-Nya dalam sekejap mata” Dan tatkala ia melihat singasana berada pada dirinya, ia berkata “Inilah karunia Tuhanku, supaya Dia mencobaku, apa aku berterimakasih, maka ia berterimasih pada Rohnya sendiri, dan siapa yang tidak berterimakasih maka sesungguhnya bagi dirinya Alloh adalah berkecukupan lagi terhormat”.</p>
<p>Al-Ankabut (29 ayat 5,23) :</p>
<p>Barang siapa yang mengharap / bertekad ingin menemui Alloh oleh Alloh pada saat yang tertentu pasti akan tiba, dan Dia adalah Maha mendengar lagi Mengetahui.</p>
<p>Dan orang-orang yang kafir kepada pekabaran (kabar) Alloh dan menolak serta tidak percaya untuk menemui Tuhannya, mereka itu berputus harapan dari rakhmat-Ku, dan untuk mereka siksaan yang amat pedih.</p>
<p>Al-Kahfi (18 ayat 103-104-105 ) : </p>
<p>“Katakanlah : Apakah akan kami berituhukan kapadamu tentang orang-orang amat rugi perbuatannya ?”</p>
<p>“Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang baik”.</p>
<p>“Meraka itu ialah orang-orang yang kufur (ingkar) terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur) terhadap perjumpaan denga-Nya. Maka hapuslah amalan- amalan mereka. Dan kami tidak adakan timbangan bagi mereka pada hatri kiamat.</p>
<p>Yunus (10 ayat 7 dan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> :</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami”.</p>
<p>“Meraka itulah tempatnya neraka, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: permana_tingal</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-33</link>
		<dc:creator>permana_tingal</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 10:23:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-33</guid>
		<description>Didalam sebuah cerita, ada seorang Pemuda sebut saja Syaiful, bersama ketiga temannya yang baru masuk Islam, sebut saja A, B, dan C.
Suatu ketika mereka berniat sholat Subuh berjamaah di mesjid. Saat itu hanya ada seorang Ustadz dan bersama mereka berempat. Syaiful mengajarkan kepada ketiga temannya untuk tidak berbicara ketika Sholat, temannya mengiyakan. Tanpa panjang lebar, Ustadz itu pun bertindak sebagai imam.
Singkat Cerita di Rakaat kedua, seekor tikus lewat dihadapan mereka berempat (selaku makmum). Spontan si A berbicara &quot;ich ada tikus&quot; dan si B menjawab &quot;ssttttt, berisik&quot; dan si C pun ikut-ikutan &quot;jangan ngomong&quot;. Melihat ketiga temannya tidak mengindahkan apa yang diajarkannya, Syaiful berkata &quot;kalau sholat jangan ngomong&quot;. Sang imam pun mengisyaratkan untuk ruku, maka ruku-lah semua makmum. Dan Sang imam berkata &quot;kalau begitu sich batal semua sholatnya&quot;.

Disini kita sebagai pembaca cerita tsb. bisa melihat garis besarnya. Begitu pula dikehidupan kita sekarang, banyak yang angkat bicara soal kasus Ahmadiyah. Ada yang pro, dan tidak sedikit pula yang kontra. Mana yang benar? Wallahu allam.

Saat kita kecil, diajarkan &quot;menuntut ilmu sampai liang lahat&quot;. Ilmu menjadikan kita dapat melihat yang benar dan yang salah. Jika menuntut ilmu sampai kita meninggal, maka selagi kita hidup masih disebut sebagai PENCARI KEBENARAN, bukan sebagai ORANG YANG SUDAH BENAR.

Lalu jika begitu, kenapa dengan mudah memvonis golongan lain salah. Jika jawabannya, karena ada Al Qur&#039;an dan Hadist sebagai penuntun, Pertanyaan berikutnya: apakah kita sudah mengkaji Alqur&#039;an tersebut secara menyeluruh. Karena menurut pandangan saya berbeda antara Mengkaji dan Membaca. Kalau membaca saja, banyak org Khatam Alqur&#039;an dibulan Puasa.

Dalam Islam, rukun Islam pertama Adalah Syahadat. &quot;Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan nabi Muhammad adalah Utusan Allah&quot;. coba fikirkan, kata BERSAKSI. Apakah itu dengan mulut (berbicara), telinga (mendengar), hidung (mencium)? Pastinya dengan mata untuk dapat bersaksi. Tapi apakah umat islam sekarang bisa benar-benar bersaksi kepada Tuhannya?

Karena dulu nabi Muhammad SAW, Islamnya bukan kata beliau pribadi, melainkan diislamkan oleh Allah SWT langsung. &quot;Pada hari ini Aku Ridho Islam Sebagai Agamamu&quot;. 
Ternyata kalau difikir-fikir saya sangat lancang sekali menganggap diri saya Islam. Toh, sekelas nabi saja Islamnya dari Allah Langsung, bukan atas dasar pengakuan dirinya pribadi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Didalam sebuah cerita, ada seorang Pemuda sebut saja Syaiful, bersama ketiga temannya yang baru masuk Islam, sebut saja A, B, dan C.<br />
Suatu ketika mereka berniat sholat Subuh berjamaah di mesjid. Saat itu hanya ada seorang Ustadz dan bersama mereka berempat. Syaiful mengajarkan kepada ketiga temannya untuk tidak berbicara ketika Sholat, temannya mengiyakan. Tanpa panjang lebar, Ustadz itu pun bertindak sebagai imam.<br />
Singkat Cerita di Rakaat kedua, seekor tikus lewat dihadapan mereka berempat (selaku makmum). Spontan si A berbicara &#8220;ich ada tikus&#8221; dan si B menjawab &#8220;ssttttt, berisik&#8221; dan si C pun ikut-ikutan &#8220;jangan ngomong&#8221;. Melihat ketiga temannya tidak mengindahkan apa yang diajarkannya, Syaiful berkata &#8220;kalau sholat jangan ngomong&#8221;. Sang imam pun mengisyaratkan untuk ruku, maka ruku-lah semua makmum. Dan Sang imam berkata &#8220;kalau begitu sich batal semua sholatnya&#8221;.</p>
<p>Disini kita sebagai pembaca cerita tsb. bisa melihat garis besarnya. Begitu pula dikehidupan kita sekarang, banyak yang angkat bicara soal kasus Ahmadiyah. Ada yang pro, dan tidak sedikit pula yang kontra. Mana yang benar? Wallahu allam.</p>
<p>Saat kita kecil, diajarkan &#8220;menuntut ilmu sampai liang lahat&#8221;. Ilmu menjadikan kita dapat melihat yang benar dan yang salah. Jika menuntut ilmu sampai kita meninggal, maka selagi kita hidup masih disebut sebagai PENCARI KEBENARAN, bukan sebagai ORANG YANG SUDAH BENAR.</p>
<p>Lalu jika begitu, kenapa dengan mudah memvonis golongan lain salah. Jika jawabannya, karena ada Al Qur&#8217;an dan Hadist sebagai penuntun, Pertanyaan berikutnya: apakah kita sudah mengkaji Alqur&#8217;an tersebut secara menyeluruh. Karena menurut pandangan saya berbeda antara Mengkaji dan Membaca. Kalau membaca saja, banyak org Khatam Alqur&#8217;an dibulan Puasa.</p>
<p>Dalam Islam, rukun Islam pertama Adalah Syahadat. &#8220;Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan nabi Muhammad adalah Utusan Allah&#8221;. coba fikirkan, kata BERSAKSI. Apakah itu dengan mulut (berbicara), telinga (mendengar), hidung (mencium)? Pastinya dengan mata untuk dapat bersaksi. Tapi apakah umat islam sekarang bisa benar-benar bersaksi kepada Tuhannya?</p>
<p>Karena dulu nabi Muhammad SAW, Islamnya bukan kata beliau pribadi, melainkan diislamkan oleh Allah SWT langsung. &#8220;Pada hari ini Aku Ridho Islam Sebagai Agamamu&#8221;.<br />
Ternyata kalau difikir-fikir saya sangat lancang sekali menganggap diri saya Islam. Toh, sekelas nabi saja Islamnya dari Allah Langsung, bukan atas dasar pengakuan dirinya pribadi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: KH. Achidin Noor, MA.</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-25</link>
		<dc:creator>KH. Achidin Noor, MA.</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 10:58:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-25</guid>
		<description></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lampiran :<br />
CONTOH TAKWILAN AHMADIYAH<br />
DALAM MEMAHAMI TANDA-TANDA KIAMAT KUBRO</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam jawabannya atas pertanyaan Komisi VIII DPR RI pada temu wicara tanggal 31 Agustus 2005 pada halaman 3 sampai dengan 5 menguraikan makna hadits di bawah ini dengan uraian yang aneh dan dengan takwilan-takwilan yang tidak ada dasarnya, sementara masalah tanda-tanda kiamat itu banyak, ada yang sudah terjadi dan belum terjadi. Yang sudah terjadi, betul-betul terjadi dan terjadi apa adanya sesuai mantuqnya tanpa takwilan. Tapi Ahmadiyah mentakwil hadits ini demi memuluskan segala bentuk pengakuan Mirza Ghulam Ahamd sebagai nabi, rasul, Imam Mahdi dan (duplikat) Isa ibnu Maryam AS. Padahal kalau kita kumpulkan hadits-hadits lain yang menjelaskan isi hadits ini banyak sekali, sehingga hadits yang satu menjelaskan hadits yang lain, saling melengkapi dan saling menjelaskan. Oleh karena itu hadits di bawah ini tidak perlu ditakwil maknanya karena dijelaskan oleh hadits lain, sehingga maknanya jelas.<br />
روى مسلم في كتاب الفتن وأشراط الساعة باب في الآيات التي تكون قبل الساعة<br />
حدّثناأَبُو خَيْثَمَةَ، زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَ إِسْحَـٰقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ &#8211; وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ &#8211; قَالَ إِسْحَـٰقُ : أَخْبَرَنَا. وَقَالَ الآخَرَانِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ، عَنْ ابْن الطُّفَيْلِ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ ، قَالَ: اطَّلَعَ النَّبِيُّ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: «مَا تَذَاكَرُونَ؟» قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: «إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّىٰ تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ». فَذَكَرَ الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَىٰ ابْنِ مَرْيَمَ . وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ. وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ. وَآخِرُ ذٰلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَىٰ مَحْشَرِهِمْ.<br />
روي ابو داود : حدثنا مُسَدَّدٌ وَ هَنَّادٌ المَعْنَى قالَ مُسَدَّدٌ أخبرنا أبُو الأَحْوَصِ قالَ أخبرنا فُرَاتٌ الْقَزَّازُ عن عَامِرِ بنِ واثِلَةَ ، وقالَ هَنَّادٌ عن أبي الطُّفَيْلِ عن حُذَيْفَةَ بنِ أسِيدٍ الْغِفَارِيِّ ، قالَ: «كُنَّا قُعُوداً نَتَحَدَّثُ في ظِلِّ غْرْفَةٍ لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَذَكَرْنا السَّاعَةَ فارْتَفَعَتْ أصْواتُنَا، فقالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: لَنْ تَكُونَ، أوْ لَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ قَبْلَها عَشْرُ آيَاتٍ: طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ، وَخُرُوجُ يَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَالدَّجَّالِ، وَعِيسَى ابنِ مَرْيَمَ، وَالدُّخَانُ، وَثَلاَثُ خُسُوفٍ: خَسْفٍ بالمَغْرِبِ، وَخَسْفٍ بالمَشْرِقِ، وَخَسْفٍ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبَ، وَآخِرُ ذَلِكَ تخرج نارٌ مِنَ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرٍ عَدَنٍ، تَسُوقُ النَّاسَ إلَى المَحْشَرِ».<br />
1- الدخان :<br />
1. Keluarnya Dukhon (asap). Ahmadiyah mentakwil Dukhon dengan asap=meledaknya bom, senjata api, polusi udara/asap mesin-mesin dan lain-lain (lihat halaman 4), sementara dalam hadits lain ceritanya lain lagi dan bukan seperti pentakwilan Ahmadiyah.<br />
حدثني  محمد بن عوف  ، قال : ثنا  محمد بن إسماعيل بن عياش  ، قال : ثني أبي ، قال : ثني  ضمضم بن زرعة  ، عن  شريح بن عبيد  ، عن أبي مالك الأشعري  ، قال : &#8221; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن ربكم أنذركم ثلاثاً : الدخان يأخذ المؤمن كالزكمة ، ويأخذ الكافر  فينتفخ حتى يخرج من كل مسمع منه ، والثانية الدابة ، والثالثة الدجال &#8221; أخرجه الطبري في تفسيره 25ص 114<br />
ورَوَى من حديث حُذيْفة عن النبي &#8211;  صلى الله عليه وسلم  &#8211; إنَّ من أشْراط السَّاعَة دُخاناً ملأ ما بين المشْرق والمغْرب يَمْكُثُ في الأرْض أربعين يوماً أمَّا المؤمنُ فيُصيبُهُ منهُ شبْهُ الزُّكام وأمَّا الكافرُ فيكونُ بمنزلَة السَّكْران يخرُجُ الدُّخانُ من أنْفه ومَنْخَرَه وعَيْنَيْه وأُذُنيْه ودُبُره<br />
قال النووي : هذا الحديث يؤيد قول من قال إن الدخان دخان يأخذ بأنفاس الكفار ويأخذ المؤمن منه كهيئة الزكام وأنه لم يأت بعد وإنما يكون قريباً من قيام الساعة، وقد سبق في كتاب بدء الخلق قول من قال هذا وإنكار ابن مسعود عليه وأنه قال: إنما هو عبارة عما نال قريشاً من القحط حتى كانوا يرون بينهم وبين السماء كهيئة الدخان، وقد وافق ابن مسعود جماعة وقال بالقول الآخر حذيفة وابن عمر والحسن ورواه حذيفة عن النبيّ صلى الله عليه وسلم وأنه يمكث في الأرض أربعين يوماً، ويحتمل أنهما دخانان للجمع بين هذه الآثار، &#8230;.. (شرح النوي ج18/27<br />
قال القرطبي: وقد روي عن ابن مسعود رضي الله عنه أنهما دخانان. قال مجاهد: كان ابن مسعود رضي الله عنه يقول هما دخانان قد أمضى أحدهما، والذي بقي يملأ ما بين السماء والأرض انتهى.<br />
2- الدجال :<br />
2. Keluarnya Dajjal. Ahmadiyah mentakwil Dajjal dengan bangsa yang mengutamakan dunia dan melupakan akhirat, padahal hadits-hadits tetang Dajjal sangat banyak dan menjelaskan siapa dan bagaimana dajjal hidup, bagaimana akhir hanyatnya dengan datangnya Isa ibnu Maryam, bukan seperti yang ditakwilkan oleh Ahmadiyah.<br />
1- روى البخاري :كتاب الفتن باب ذكر الدجال : حدَّثنا عَبدانُ أخبرَني أبي عن شعبةَ عن عبد الملك عن ربعيّ عن حُذيفَةَ عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم قال في الدَّجال: «إن معهُ ماءً وناراً، فنارهُ ماءٌ باردٌ وماؤهُ نارٌ» قال ابن مسعودٍ: أنا سمعتهُ من رسولِ الله صلى الله عليه وسلم.<br />
2- روى البخاري كتاب الفتن باب ذكر الدجال : حدَّثنا سليمانُ بن حرب حدَّثنا شُعبة عن قتادةَ عن أنس رضيَ اللهُ عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم:«ما بُعِث نبيٌّ إلا أنذَرَ أمتهَ الأعورَ الكذابَ، ألا إنه أعورُ وإنَّ ربَّكم ليسَ بأعْوَر، وإنَّ بين عينيه مكتوبٌ: كافر» فيه أبو هريرةَ وابن عباس عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم.<br />
3- روى الترمذي كتاب الفتن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم باب ما جاء من أين يخرج الدجال : حَدَّثنا بُنْدَارٌ وَ أَحْمَدُ بنُ مَنِيعٍ قَالاَ: حدثنا رَوْحُ بنُ عَبَادَةَ ، حدثنا سَعِيدُ بنُ أَبي عَرُوبَةَ ، عن أَبي التَّيَّاحِ عن المُغِيرةِ بنِ سُبَيعٍ عن عَمْرِو بنِ حُرَيْثٍ ، عن أَبي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ قَالَ: «حدثنا رَسُولُ الله قَالَ: الدَّجَّالُ يخرُجُ مِنْ أَرْضٍ بالمَشْرِقِ يُقَالُ لهَا خُراسَانَ يتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كأَنَّ وُجُوهَهُمْ المَجَانُّ المُطْرَقَةُ» .قال أبو عِيسَى: وفي البابِ عن أبي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ. وهذا حديثٌ حسنٌ غريبٌ. وقَدْ رَوَاهُ عَبْدُ الله بنُ شَوْذَبٍ وغير واحد عن أَبي التَّيَّاحِ وَلاَ نعرفه إِلاَّ مَنْ حَدِيثِ أَبي التَّيَّاحِ.<br />
Dalam hadits di atas diterangkan bahwa Dajjal itu akan keluar dari suatu tempat di arah timur, namanya Khorasan, Dajjal akan diikuti oleh beberapa kaum (bangsa) ……. dst. Sementara dalam riwayat asal usul Mirza ghulam Ahmad disebut demikian :<br />
Hazrat Ahmad as. adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya darii sungai tersebut. Kemungkinan benar apa yang dikabar ghoibkan oleh Rasulullah SAW, Mirza bukan sebagai Isa Al-Masih tapi sebagai Al-Masih Ad-Dajjal, dengan bukti-bukti segala kepalsuannya.<br />
4- روى مسلم كتاب الفتن وأشراط الساعة باب في بقية من أحاديث الدجال : حدّثنا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ. حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ إِسْحَـٰقَ بْنِ عَبْدِ اللّهِ، عَنْ عَمِّهِ، أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللّهِ قَالَ: «يَتْبَعُ الدَّجَّالَ، مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلفاً. عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ».<br />
5- روى البخاري كتاب الفتن باب ذكر الدجال : حدثنا  سعد بن حفصٍ حدَّثَنا شيبانُ عن يحيى عن إسحاقَ بن عبداللَّه بن أبي طلحةَ عن أنسِ بن مالك قال: قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: «يجيء الدجال حتى ينزِلَ في ناحية المدينة، ثم ترجُفُ المدينة ثلاثَ رجفات فيَخرُجُ إليهِ كلُّ كافرٍ ومنافقٍ».<br />
6- روى البخاري كتاب الفتن باب لا يدخل الدجال المدينة : حدَّثني يحيى بن موسى حدَّثَنا يَزيدُ بن هارونَ أخبرَنا شُعبة عن قتادةَ عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «المدينة يأتيها الدجال فيَجِدُ الملائكةَ يحرسُونها فلا يَقرَبها الدجال ولا الطاعونُ إن شاءَ اللَّه».<br />
7- روى البخاري كتاب الفتن باب لا يدخل الدجال المدينة : حدثنا  أبو اليمان  : أخبرَنا شعيبٌ عن الزُّهريِّ أخبرَني عُبيدُاللَّه بنُ عبدالله بن عُتبة بن مسعودٍ أنَّ أبا سعيدٍ قال: حدَّثَنا رسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم يوماً حديثاً طويلاً عن الدجال، فكان فيما يحدِّثنا به أنه قال: «يأتي الدَّجالُ ـ وهو محرَّمٌ عليه أن يَدخلَ نِقابَ المدينة ـ فينزلُ بعضَ السِّباخ التي تلي المدينةَ، فيخرُجُ إليه يومئذٍ رجلٌ هو خيرُ الناس ـ أو من خيار الناس ـ فيقول: أشهدُ أنك الدجّالُ الذي حدَّثَنا رسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم، حديثه فيقول الدجال: أرأيتم إن قَتلتُ هذا ثمَّ أحييته هل تَشكونَ في الأمر؟ فيقولون: لا؛ فيقتله ثم يُحْييه؛ فيقول: واللَّهِ ما كنتُ فيكَ أشدَّ بَصيرةً مني اليومَ، فيريدُ الدجالُ أن يَقْتُلَه فلا يسلَّطُ عليه».<br />
8- روى الترمذي كتاب الفتن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم باب ما جاء في قتل عيسى ابن مريم الدجال : حَدَّثنا قُتَيْبَةُ ، حدثنا الَّليْثُ عن ابنِ شِهَابٍ، أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ الله بنَ عبدِ الله بنِ ثَعْلَبَةَ الأنْصَارِيَّ يُحَدِّثُ عن عبدِ الرحمٰنِ بنِ يَزِيدَ الأنْصَارِيِّ مِنْ بَنِي عَمْرِو بنِ عَوْفٍ قال: سَمِعْتُ عَمِّي مُجَمَّعَ بنَ جَارِيَةَ الأنْصَارِيَّ يقولُ: سَمِعْتُ رسولَ الله يقولُ: «يَقْتُلُ ابنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ» . قال: وفي البابِ عن عِمْرَانَ بنِ حُصَيْنٍ وَنَافِعِ بنِ عُتْبَةَ وأبي بَرْزَةَ وَحُذَيْفَةَ بنِ أبي أَسِيدٍ وأبي هُرَيْرَةَ وَكَيْسَانَ وَعُثْمانَ بنِ أبي الْعَاصِ وَجَابِرٍ وأبي أُمَامَةَ وَابنِ مَسْعُودٍ وعبدِ الله بنِ عَمْرٍو وَسَمُرَةَ بنِ جُنْدَبٍ وَالنوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ وَعَمْرِو بنِ عَوْفٍ وَحُذَيْفَةَ بنِ الْيَمانِ. قال أبو عِيسَى: هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.<br />
9- روى الترمذي: باب ماجاء لايحل دم امرئ مسلم : حَدَّثنا عليُّ بنُ حُجرٍ ، أخبرنا الوليدُ بنُ مُسْلِمٍ و عبدُ الله بنُ عَبْدِ الرَّحمٰنِ بنُ يَزِيدَ بنِ جَابِرٍ دَخَلَ حَدِيثُ أَحَدِهِمَا في حَدِيثِ الآخَرِ عن عَبْدِ الرّحمٰنِ بنُ يَزِيدَ بنِ جَابِرٍ عنْ يَحْيَى بنِ جَابِرٍ الطَّائِيِّ عنْ عَبْدِ الرحمنِ بنِ جُبَيرٍ عَنْ أَبِيهِ جُبير بنِ نُفَيرٍ عَنْ النَّوَّاسِ بن سَمْعانَ الكِلاَبِيِّ قالَ: «ذَكَرَ رَسُولُ الله الدَّجَّالَ ذَاتَ غَداةٍ فَخفَّضَ فيهِ وَرَفَّعَ حتى ظَنَنَّاهُ في طَائِفَةِ النَّخْلِ، قَالَ فانْصَرَفْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ الله ثم رَجَعْنَا إِلَيْهِ فَعرَف ذَلِكَ فِينَا، فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ الله ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ الغَدَاةَ فَخفَّضْتَ وَرَفَّعْتَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ في طَائِفَةِ النَّخْلِ قَالَ: غَيْرُ الدَّجّالِ أَخْوَفُ لِي عَلَيْكُمْ إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجيجُ نَفْسِهِ، وَالله خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ قَائِمةٌ شَبِيهٌ بِعَبْدِ العُزَّي بنِ قَطَنٍ، فَمَنْ رَآهُ مِنكُمْ فَلْيَقْرَأْ فَوَاتِحَ سُورَةِ أَصْحَابِ الكَهْفِ. قَالَ: يَخْرُجُ مَا بَيْنَ الشَّامِ وَالعِرَاقِ فَعَاثَ يَميناً وَشِمَالاً، يَا عِبَادَ الله الْبَثُوا. : قلْنَا يَا رَسُولَ الله وَمَا لَبْثُهُ في الأَرْضِ؟ قَالَ أَرْبَعِينَ يَوْماً يوم كَشَهْرِ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَامِهِ كَأَيَّامِكُمْ . قَالَ قَلْنَا يَا رَسُولَ الله أَرَأَيْتَ اليَوْمَ الَّذِي كالسَّنَةِ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَالَ لاَ، وَلَكِنْ اقدُرُوا لَهُ . قُلْنَا يَا رَسُولَ الله فَمَا سُرْعَتُهُ في الأرْضِ؟ قَالَ كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الريحُ فَيَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيُكَذِّبُونَهُ وَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ، فَتَتْبَعُهُ أَمْوَالُهُمْ فيُصْبِحُونَ لَيْسَ بِأَيْدِيهُمْ شَيءٌ. ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَسْتَجِبيُونَ لَهُ وَيُصَدِّقُونَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ أَنْ تُمْطِرَ فَتُمْطِرَ وَيَأْمُرُ الأرْضَ أَنْ تُنْبِتَ فَتُنْبِتَ فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ كَأَطْوَلِ مَا كَانَتْ ذُرًى وَأَمَدِّهِ خَوَاصِرَ وَأَدَرِّهِ ضُرُوعاً, ثم يَأْتِي الْخَرِبَةَ فَيَقُولُ لَهَا أَخْرِجِي كُنُوزَكِ فينْصَرِفُ مِنْهَا فتَتْبَعُهُ كيَعَاسِيبِ النَّحْلِ، ثمَّ يَدْعُو رَجُلاً شَابَا مُمْتَلِئاً شَبَاباً فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ فَيَقْطَعُهُ جِزْلَتَيْنِ، ثُمَّ يَدْعُوهُ فيُقْبِلُ يَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ، فَبَيْنَما هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هَبْطَ عِيَسَى بنُ مَرْيَمَ عليه السلام بِشَرْقِيِّ دِمَشْقَ عِنْدَ المَنَارَةِ البَيْضَاءِ بَيْنَ مَهْرُ ودَتَيْنِ وَاضِعاً يَدَيه عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قطر وإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كالُّلؤْلُؤِ، قَالَ: وَلاَ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ يعني أَحَد إِلاَّ مَاتَ، وَرِيحُ نَفَسِهِ مُنْتَهَى بَصَرِهِ، قَالَ: فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلَهُ. قَالَ فَيَلْبَثُ كَذَلِكَ مَا شَاءَ الله؟ قَالَ ثُمَّ يُوحِي الله إِلَيْهِ أَنْ حَوَّزَ عِبَادِيَ إِلَى الطُّورِ فَإِني قَدْ أَنْزَلْتُ عِبَاداً لِي لاَ يَدَ لأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، قَالَ: وَبَيْعَثُ الله يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ كمَا قَالَ: الله وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُون، قَالَ: وَيَمُرُّ أَوَّلُهُمْ بِبُحَيْرَةِ الطَّبَريَّةِ فَيَشْرَبُ مَا فِيهَا ثم يُمرُّ بِهَا آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ ثَمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ بَيْتِ المَقْدِسِ فَيَقُولُونَ لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي الأَرْضِ فَهَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ فَيَرْمُونَ بِنُشَّابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَردُّ الله عَلَيْهِمْ نُشَّابَهُمْ مُحْمَرًّا دَماً، وَيُحَاصَرُ عيسَى بنُ مَرْيَمَ وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ يَوْمَئِذٍ خَيْراً لَهُمْ مِنْ مَائَةِ دِينَارٍ لأَحَدِكُمْ اليَوْمَ . قالَ: فَيَرْغَبُ عيسَى بنُ مَرْيَمَ إِلَى الله وَأَصْحَابُهُ قَالَ: فيُرْسِلُ الله عَلَيْهِم النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى مَوْتى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، قال: وَيَهْبِطُ عِيسَى وَأَصْحابُهُ فلا يَجِدُ مَوْضِعَ شِبْرٍ إلاَّ وقد مَلأَتْهُ زَهْمتُهُمْ وَنَتْنُهُمْ وَدِمَاؤُهُمْ . قَالَ: فَيَرْغَبُ عيسَى إِلَى الله وَأَصْحَابُهُ قَالَ فيُرْسِلُ الله عَلَيْهِمْ طَيْراً كأعْنَاقِ البُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ بالمَهْبِلِ وَيَسْتَوقِدُ المسْلِمُونَ مِنْ قِسيِّهمْ وَنُشَّابِهِمْ وَجِعَابِهِمْ سَبْعَ سنِينَ وَيُرْسِلُ الله عَلَيْهِمْ مَطَراً لاَ يُكَنَّ مِنْهُ بَيْتُ وَبَرٍ وَلاَ مَدَرٍ، قَالَ فَيَغْسِلُ الأَرْضَ فَيَتْرُكُهَا كَالَزلَفَةِ، قَالَ: ثمَّ يُقَالُ لِلأَرْضِ أَخْرِجِي ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ العِصَابَةُ الرُّمَّانَة وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارِكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى أنَّ الفِئَامَ مِنَ النَّاسِ لَيَكْتَفُونَ باللقْحَةِ مِنَ الإِبِل وَأَنَّ القَبِيلَةَ لَيَكْتَفُونَ باللَّقْحَةِ مِنَ الْبَقَرِ، وإِنَّ الْفَخِذَ لَيَكْتَفُونَ بالَّلقْحَةِ مِنَ الغَنَمِ، فَبَيْنَما هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ الله رِيحاً فَقَبَضَتْ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَيَبْقَى سائرُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ كَمَا يَتَهَارَجُ الْحُمرُ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ» . قال أبو عِيسَى: هذا حَدِيثٌ حسنٌ صحيحٌ غريبٌ. لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرحمنِ بنِ يَزِيدَ بنِ جَابِرٍ.<br />
10- روى مسلم كتاب صلاة المسافرين وقصرها باب فضل سورة الكهف وآية الكرسي : وحدّثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنّى. حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ. حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَة عَنْ سَالِمِ ابْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْغَطَفَانِيِّ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الْيَعْمَرِيِّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ ، أَنَّ النَّبِيِّ قَالَ: «مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ، عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ».<br />
11- روى أحمد في مسنده : حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا حسن بن موسى ثنا شيبان عن يحيى عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يَنْزِلُ الدَّجَّالُ حِينَ يَنْزِلُ فِي نَاحِيَةِ الْمَدِينَةِ، فَتَرْجُفُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، فَيَخْرُجُ إلَيْهِ كُلُّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ»<br />
وقال  القاضي عياض  : في هذه الأحاديث حجة لأهل السنة في صحة وجود الدجال وأنه شخص معين يبتلي الله به العباد ويقدره على أشياء كاحياء الميت الذي يقتله وظهور الخصب والأنهار والجنة والنار واتباع كنوز الأرض له وأمره السماء فتمطر الأرض فتنبت وكل ذلك بمشيئة الله ، ثم يعجزه الله فلا يقدر على قتل ذلك الرجل ولا غيره ، ثم يبطل أمره ويقتله عيسى ابن مريم وقد خالف في ذلك بعض الخوارج والمغتزلة والجهمية فانكروا وجوده وردوا الأحاديث الصحيحة ، وذهب طوائف منهم كالجبائي إلى أنه صحيح الوجود لكن لكل الذي معه مخاريق وخيالات لا حقيقة لها ، وألجأهم إلى ذلك أنه لو كان معه بطريق الحقيقة لم يوثق بمعجزات الأنبياء ، وهو غلظ منهم لأنه لم يدع النبوة فتكون الخوارق تدل على صدقه ، وإنما ادعى الإلهية وصورة حاله تكذبه لعجزه ونقصه فلا يغتر به إلارعاع الناس إما لشدة الحاجة والفاقة وإما تقية وخوفاً من أذاه وشره مع سرعة مروره في الأرض فلا يمكث حتى يتأمل الضعفاء حاله ، فمن صدقه في تلك الحال لم يلزم منه بطلان معجزات الأنبياء ، ولهذا يقول له الذي يحييه بعد أن يقتله &#8221; ما ازددت فيك إلا بصيرة &#8221;<br />
3- الدابة<br />
3. Keluarnya Daabbah (binatang). Ahmadiyah mentakwil Dabbah (Virus &amp; bakteri misalnya wabah Pes, Kolera, AIDS, HIV, Anthrax, Flu Burung, dll). Namun assialkoty mengatakan isti’arah, artinya Ulama jahat.(halaman 98). Padahal hadits-hadits menjelaskan apa dan bagaimana dabbah itu, bukan seperti takwilan jahat Ahmadiyah terhadap para ulama Islam non Ahmadiyah.<br />
1- روى الترمذي باب ماجاء الذي يفسر القرآن : حدثنا عَبْدُ بنُ حُمَيْدٍ حدثنا رَوْحُ بنُ عُبَادَةَ عَن حَمَّادِ بنِ سَلَمَةَ عَن عَلِيِّ بنِ زَيْدٍ عَن أَوْسِ بنِ خَالِدٍ عَن أَبي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ الله قَالَ «تَخْرُجُ الدَّابَّةُ مَعَهَا خَاتَمُ سُلَيْمان وعَصَا مُوسَى فتجلُو وَجْهَ المُؤْمِنِ وتَخْتِمُ أَنْفَ الكافِرِ بالخَاتَم حَتَّى إنَّ أَهْلَ الخُوَانِ لَيَجْتَمِعُونَ فَيَقُولُ هذا يَا مُؤْمِنُ، ويَقُولُ هَذا يَا كَافِرُ». قال أبو عيسَى: هَذا حَدِيثٌ حَسَنٌ وقَد رُوِيَ هَذَا الحديثُ عن أبي هُرَيْرَةَ عَن النبيِّ مِنْ غَيْرِ هَذَا الوَجْهِ في دَابَّةِ الأرْضِ. وَفي البَابِ عَن أَبي أُمَامَةَ وحذَيْفَةَ بنِ أُسَيْدٍ.<br />
2- روى ابن حبان كتاب الفتن باب دابة الأرض : حدثنا  أبو غسان محمد بن عمرو زنيج  ، حدثنا  أبو تميلة  ، حدثنا  خالد بن عبيد  ، حدثنا  عبد الله بن بريدة  ، عن  أبيه  قال :  ذهب بي رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى موضع بالبادية قريب من مكة ، فإذا أرض يابسة حولها رمل ، فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : تخرج الدابة من هذا الموضع ، فإذا فتر في شبر . قال  ابن بريدة  : فحججت بعد ذلك بسنين فأرانا عصا له ، فإذا هو بعصاي هذه هكذا و هكذا<br />
3- قال  أبو داود الطيالسي  عن  طلحة بن عمرو وجرير بن حازم  , فأما  طلحة  فقال: أخبرني  عبد الله بن عبيد الله بن عمير الليثي  : أن  أبا الطفيل  حدثه عن  حذيفه بن أسيد الغفاري أبي سريحة  , وأما  جرير  فقال: عن  عبد الله بن عبيد  عن  رجل من آل عبد الله بن مسعود  . وحديث  طلحة  أتم وأحسن قال: ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم الدابة فقال: &#8220;لها ثلاث خرجات من الدهر: فتخرج خرجة من أقصى البادية, ولا يدخل ذكرها القرية ـ يعني مكة ـ ثم تكمن زمناً طويلاً, ثم تخرج خرجة أخرى دون تلك, فيعلو ذكرها في أهل البادية ويدخل ذكرها القرية&#8221; يعني مكة, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: &#8220;ثم بينما الناس في أعظم المساجد على الله حرمة وأكرمها المسجد الحرام, لم يرعهم إلا وهي تدنو بين الركن والمقام, تنفض عن رأسها التراب, فارفض الناس عنها شتى ومعاً, وبقيت عصابة من المؤمنين وعرفوا أنهم لم يعجزوا الله, فبدأت بهم فجلت وجوههم حتى جعلتها كأنها الكوكب الدري, وولت في الأرض لا يدركها طالب, ولا ينجو منها هارب, حتى إن الرجل ليتعوذ منها بالصلاة فتأتيه من خلفه فتقول: يا فلان الان تصلي, فيقبل عليها فتسمه في وجهه, ثم تنطلق ويشترك الناس في الأموال ويصطحبون في الأمصار, يعرف المؤمن من الكافر, حتى إن المؤمن ليقول: يا كافر اقضني حقي.<br />
 &#8211; 4وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا:<br />
4. Terbitnya matahari dari barat. Ahmadiyah mentakwilnya, yakni ajaran Rasulullah SAW akan disebar-luaskan dari Barat, karena didalam Al-Quran Suci Yang Mulia Rasulullah SAW disebut Siraajan Munitra(n), yaitu Cahaya Matahari Yang Berkilau-kilau (Al-Quran Surah Al-Ahzab ayatn 47) (lihat halaman 4). Mungkin kesimpulannya bahwa pusat Ahmadiyah berada di Inggris dan Islam disebar-luaskan dari Inggris (Barat) oleh Ahmadiyah, melalu kilauan MTA TV Ahmadiyah Internasional. Padahal arti dari nubuwatan ini tidak seperti takwilan Ahmadiyah. Perhatikan hadits-hadits berikut:<br />
1- روي البخاري كتاب الرقاق باب طلوع الشمس من مغربها : حدثنا  أبو اليمان  : أخبرنا  شعيب  : حدثنا  أبو الزناد  : عن  عبد الرحمن  ، عن  أبي هريرة  رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (لا تقوم الساعة حتى تطلع الشمس من مغربها، فإذا طلعت فرآها الناس آمنوا أجمعون، فذلك حين: &#8221; لا ينفع نفساً إيمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيراً &#8220;.<br />
2- روي مسلم كتاب الفتن وأشراط الساعة باب في خروج الدجال ومكثه في الأرض ونزول عيسى وقتله إياه وذهاب أهل الخير والإيمان وبقاء شرار الناس وعبادتهم الأوثان والنفخ في الصور وبعث من في القبور : حدثنا  أبو بكر بن أبي شيبة  ، حدثنا  محمد بن بشر  ، عن  أبي حيان  ، عن  أبي زرعة  ، عن  عبيد الله بن عمرو  ، قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثا لم أنسه بعد ،<br />
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن أول الآيات خروجا ، طلوع الشمس من مغربها ، وخروج الدابة على الناس ضحى ، وأيهما ما كانت قبل صاحبتها ، فالأخرى على إثرها قريبا .<br />
وقال القاضي عياض : المعنى لا تنفع توبة بعد ذلك ، بل يختم على عمل كل أحد بالحالة التي هو  عليها . والحكمة في ذلك أن هذا أول ابتداء قيام الساعة بتغير العالم العلوي ، فإذا شوهد ذلك حصل الإيمان الضروري بالمعاينة وارتفع الإيمان بالغيب ، فهو كالإيمان عند الغرغرة وهو لا ينفع ، فالمشاهدة لطلوع الشمس من المغرب مثله . (فتح الباري 11/353<br />
Mata hari terbit dari barat adalah pertanda errornya aturan alam ini (tentunya sesuai dengan kehendak Allah) dan itulah kiamat artinya. Bukan takwilan seperti Ahmadiyah.<br />
 -5َنُزُولَ عِيسَىٰ ابْنِ مَرْيَمَ :<br />
5. Turunnya Nabi Isa ibnu Maryam. Berita akan turunnya nabi Isa ibnu Maryam ke bumi yang akan bekerja sama dengan Imam Mahdi menegakkan Islam dan membasmi kekufuran, merupakan hal yang sangat mendasar dan aqidah utama mereka. Mereka mentakwil turunnya nabi Isa AS bahwa nuzulnya Isa ibnu Maryam itu bukan turun dari langit, melainkan lahir di bumi dan berasal dari ummat Islam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits lain tentang turunnya Isa ibnu Maryam. Padahal banyak hadits-hadits Nabi SAW yang menjelaskan bagaimana proses turunnya Nabi Isa AS dan apa yang terjadi ketika dan sesudah Isa AS turun ke bumi. Simaklah hadits-hadits di bawah ini.<br />
1.	روى البخاري في كتاب الأنبياء : حدّثنا إِسحاقُ أخبرَنا يعقوبُ بن إِبراهيمَ حدَّثَنا أبي عن صالحٍ عنِ ابن شهابٍ أنَّ سعيدَ بنَ المسيَّبَ سمعَ أبا هريرةَ رضيَ اللهُ عنه: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيدهِ، لَيُوشِكنَّ أن ينزلَ فيكُم ابنُ مريمَ حَكَماَ عَدْلاً، فيكسِرَ الصليبَ، ويَقتلَ الخِنزيرَ، ويَضَعَ الحرب، ويَفيضَ المالُ حتى لا يَقبَلَهُ أحد، حتى تكونَ السجدةُ الواحدة خيراً منَ الدنيا وما فيها. ثمَّ يقولُ أبو هريرة رضي الله عنه: واقرَؤوا إِن شئتم {وإِنْ مِن أهلِ الكتابِ إِلا لَيُؤْمننَّ بهِ قبلَ مَوتهِ، ويومَ القِيامةِ يكونُ عليهم شهيداً} (النساء: 159).<br />
2.	روى البخاري في كتاب الأنبياء : حدّثنا ابنُ بُكَيرٍ حدثنا الليثُ عن يونُسَ عنِ ابنِ شهابٍ عن نافعٍ مولى أبي قَتادةَ الأنصاريِّ أنَّ أبا هريرةَ رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «كيفَ أنتم إِذا نزلَ ابنُ مريمَ فيكم وإِمامُكم منكم». تابعَهُ عُقَيلٌ والأوزاعيُّ.<br />
3.	روى البخاري في كتاب البيوع : حدّثنا قُتَيبةُ بنُ سعيدٍ حدَّثَنا الليثُ عنِ ابنِ شهابٍ عنِ ابنِ المسيَّبِ أنهُ سمعَ أبا هُريرة رضيَ اللهُ عنه يقولُ: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «والذي نَفسِي بيدِه ليُوشِكنَّ أن يَنزلَ فيكم ابنُ مريمَ حَكَماً مُقْسِطاً فيَكسِرَ الصَّليبَ، ويَقتُلَ الخِنزيرَ، ويَضَعَ الجِزيةَ، ويَفيضَ المالُ حتّى لا يَقبلَهُ أحد.<br />
4.	روى البخاري في كتاب المظالم : حدّثَنا عليّ بنُ عبدِ اللهِ حدّثَنا سُفيانُ حدّثَنا الزّهرِيّ قال: أخبرَني سعيدُ بنُ المُسيّبِ سمعَ أبا هريرةَ رضيَ اللهُ عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا تَقومُ الساعةُ حتّى يَنزِلَ فيكُمُ ابنُ مريمَ حَكَماً مُقْسِطاً، فيَكسِرَ الصليبَ، ويَقتُلَ الخِنزيرَ، ويَضعَ الجِزيةَ، ويَفيضَ المالُ حتّى لا يَقبلَهُ أحد.<br />
5.	روى مسلم  في كتاب الإيمان : حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ : حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ مِينَاءِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ «وَالله لَيَنْزِلَنَّ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَما عَادِلاً، فَلْيَكْسرَنَّ الصَّلِيبَ، وَلَيَقْتُلَنَّ الْخِنْزِيرَ، وَلَيَضَعَنَّ الْجِزْيَةَ، وَلَتُتْرَكَنَّ الْقِلاَصُ فَلاَ يُسْعَى عَلَيْهَا. وَلَتَذْهَبَنَّ الشَّحْنَاءُ وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ. وَلَيَدْعُوَنَّ (وَلَيُدْعَوُنَّ) إِلَى الْمَالِ فَلاَ يَقْبَلُهُ أَحَدٌ».<br />
6.	روى مسلم  في كتاب الإيمان : حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ : حَدَّثَنَا لَيْثٌ. ح وَحَدَّثَنَا مُحمَّدُ بْنُ رُمْحٍ : أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَما مُقْسِطا. فَيَكْسِرُ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ».<br />
7.	روى مسلم  في كتاب الإيمان : حدّثنا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ وَ هَـٰرُونُ بْنُ عَبْدِ اللّهِ وَ حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ قَالُوا: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله ، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ: «لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيسَىٰ ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ: تَعَالَ فَصَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ: لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ الله هٰذِهِ الأُمَّةَ».<br />
8.	روى مسلم  في كتاب الإيمان : حدّثني حَرَمْلَةُ بْنُ يَحْيَىٰ : أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ : أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ مَوْلَىٰ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَة ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ : «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ، وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟».<br />
9.	روى أبوداود في كتاب الملاحم رقم : 4324 حدثنا هُدْبَةُ بنُ خَالِدٍ أخبرنا هَمَّامٌ بن يَحْيَى عن قَتَادَةَ عن عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بنِ آدَمَ عن أَبي هُرَيْرَةَ عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم، قالَ: «لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ ـ يَعْني عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ نَبِيٌّ، وَإنَّهُ نَازِلٌ فإذَا رَأَيْتُمُوهُ فاعْرِفُوهُ، رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمْصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ، فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإسْلاَمَ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيُهْلِكُ الله في زَمَانِهِ المِلَلَ كُلَّهَا إلاَّ الإسْلاَمَ وَيُهْلِكَ المَسِيحَ الدَّجَّالَ فَيَمْكُثُ في الأرضِ أرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُتُوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ المُسْلِمُونَ» .<br />
10.	رواه أحمد في سننه : حدّثنا عبدالله حدَّثني أبي حدثنا يزيد بن هارون حدثنا حماد بن سلمة عن علي بن زيد عن أبي نضرة قال: «أتينا عثمان بن أبي العاص في يوم جمعة لنعرض عليه مصحفاً لنا على مصحفه، فلما حضرت الجمعة أمرنا فاغتسلنا ثم أتينا بطيب فتطيبنا ثم جئنا المسجد فجلسنا إلى رجل فحدَّثنا عن الدجال، ثم جاء عثمان بن أبي العاص فقمنا إليه، فجلسنا، فقال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: يكون للمسلمين ثلاثة أمصار مصر بملتقى البحرين ومصر بالحيرة ومصر بالشام فيفزع الناس ثلاث فزعات فيخرج الدجال في أعراض الناس فيهزم من قبل المشرق فأوّل مصر يرده المصر الذي بملتقى البحرين، فيصير أهله ثلاث فرق وفرقة تقول: نشامه ننظر ما هو وفرقة تلحق بالأعراب وفرقة تلحق بالمصر الذي يليهم، ومع الدجال سبعون ألفاً عليهم السيجان، وأكثر تبعه اليهود والنساء، ثم يأتي المصر الذي يليه فيصير أهله ثلاث فرق فرقة تقول: نشامه وننظر ما هو فرقة تلحق بالأعراب وفرقة تلحق بالمصر الذي يليهم بغربي الشام، وينحاز المسلمون إلى عقبة أفيق فيبعثون سرحاً لهم فيصاب سرحهم فيشتد ذلك عليهم وتصيبهم مجاعة شديدة وجهد شديد حتى إن أحدهم ليحرق وتر قوسه فيأكله فبينما هم كذلك إذ نادى مناد من السحر: يا أيها الناس أتاكم الغوث ـ ثلاثاً ـ فيقول بعضهم لبعض: إن هذا الصوت رجل شبعان، وينزل عيسى بن مريم عليه السلام عند صلاة الفجر، فيقول له أميرهم: روح الله تقدم صل، فيقول: هذه الأمة أمراء بعضهم على بعض، فيتقدم أميرهم فيصلي، فإذا قضى صلاته أخذ عيسى حربته فيذهب نحو الدجال فإذا رآه الدجال ذاب كما يذوب الرصاص فيضع حربته بين ثندويه فيقتله وينهزم أصحابه فليس يومئذٍ شيء يواري منهم أحداً حتى إن الشجرة لتقول: يا مؤمن هذا كافر ويقول الحجر: يا مؤمن هذا كافر.<br />
11.	رواه أحمد في سننه : حدّثنا عبدالله حدَّثني أبي حدثنا بهز حدثنا حماد بن سلمة أنبانا قتادة عن مطرف عن عمران بن حصين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا يزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين على من ناوأهم حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى وينزل عيسى بن مريم عليه السلام.<br />
12.	روى أحمد في مسنده : حَدَّثنا بُنْدَارٌ ، حدثنا عبدُ الرحمَنِ بنُ مَهْدِيٍّ ، حدثنا سُفْيَانُ ، عن فُرَاتٍ القَزَّازِ ، عن أبي الطُّفَيْلِ ، عن حُذَيْفَةَ بنِ أُسَيْدٍ قال ،: «أَشْرَفَ عَلَيْنَا رَسُولُ الله مِنْ غُرْفَةٍ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ السَّاعَةَ، فقال رسولُ الله : «لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ: طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَيَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَالدَّابَّةُ وَثَلاَثَةُ خُسُوفٍ: خَسْفٍ بالمَشْرِقِ وَخَسْفٍ بالمَغْرِبِ وَخَسْفٍ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَسُوقُ النَّاسَ أَوْ تَحْشُرُ النَّاسَ فَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا، وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا . حدَّثنا محمودُ بنُ غَيْلاَنَ ، حدثنا وَكِيعٌ عن سُفْيَانَ عن فُرَاتٍ ، نَحْوَهُ، وَزَادَ فِيهِ: والدُّخَانُ . ـ حدَّثنا هَنَّادٌ، حدثنا أبو الأحْوَصِ عن فُرَاتٍ القَزَّازِ نَحْوَ حديثِ وَكِيعٍ عن سُفْيَانَ. &#8230; ـ حدَّثنا محمودُ بنُ غَيْلاَنَ، حدثنا أبو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ، عن شُعْبَةَ وَالمَسْعُودِيِّ، سَمِعَا من فرات القَزَّازَ نَحْوَ حديثِ عبدِ الرحمٰنِ عن سُفْيانَ عن فُرَاتٍ وزادَ فِيهِ: الدَّجَّالَ أَوْ الدُّخَانَ. حدَّثنا أبو مُوسَى محَّمدُ بنُ المُثَنَّى ، حدثنا أبو النُّعْمَانِ الْحَكَمُ بنُ عبدِ الله الْعِجْلِيِّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ فُرَاتٍ نَحْوَ حَدِيثِ أبي داود عَنْ شُعْبَةَ ، وَزَادَ فِيهِ: قال والعَاشِرَةُ إِمَّا رِيحٌ تَطْرَحُهُمْ فِي البَحْرِ وإِمَّا نُزُولُ عيسَى بنِ مَرْيم. قال أبو عِيسَى: وفي البَابِ عنْ عَلِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَصَفِيَّةَ بنت حيي. وهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صحيحٌ.<br />
13.	روى الترمذي في كتاب الفتن : حَدَّثنا قُتَيْبَةُ ، حدثنا الَّليْثُ بن سعد عن ابنِ شِهَابٍ عن سَعِيدِ بنِ المُسَيَّبِ ، عن أَبي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبيَّ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابنُ مَرْيَمَ حَكَماً مُقْسِطاً فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ المَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ» . قال أبو عِيسَى: هذا حديثٌ حسنٌ صَحِيحٌ.<br />
14.	روى الترمذي في كتاب الفتن : حَدَّثنا قُتَيْبَةُ ، حدثنا الَّليْثُ عن ابنِ شِهَابٍ، أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ الله بنَ عبدِ الله بنِ ثَعْلَبَةَ الأنْصَارِيَّ يُحَدِّثُ عن عبدِ الرحمٰنِ بنِ يَزِيدَ الأنْصَارِيِّ مِنْ بَنِي عَمْرِو بنِ عَوْفٍ قال: سَمِعْتُ عَمِّي مُجَمَّعَ بنَ جَارِيَةَ الأنْصَارِيَّ يقولُ: سَمِعْتُ رسولَ الله يقولُ: «يَقْتُلُ ابنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبَابِ لُدٍّ» . قال: وفي البابِ عن عِمْرَانَ بنِ حُصَيْنٍ وَنَافِعِ بنِ عُتْبَةَ وأبي بَرْزَةَ وَحُذَيْفَةَ بنِ أبي أَسِيدٍ وأبي هُرَيْرَةَ وَكَيْسَانَ وَعُثْمانَ بنِ أبي الْعَاصِ وَجَابِرٍ وأبي أُمَامَةَ وَابنِ مَسْعُودٍ وعبدِ الله بنِ عَمْرٍو وَسَمُرَةَ بنِ جُنْدَبٍ وَالنوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ وَعَمْرِو بنِ عَوْفٍ وَحُذَيْفَةَ بنِ الْيَمانِ. قال أبو عِيسَى: هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.<br />
15.	روى الترمذي في كتاب الملاحم : حدثنا مُسَدَّدٌ وَ هَنَّادٌ المَعْنَى قالَ مُسَدَّدٌ أخبرنا أبُو الأَحْوَصِ قالَ أخبرنا فُرَاتٌ الْقَزَّازُ عن عَامِرِ بنِ واثِلَةَ ، وقالَ هَنَّادٌ عن أبي الطُّفَيْلِ عن حُذَيْفَةَ بنِ أسِيدٍ الْغِفَارِيِّ ، قالَ: «كُنَّا قُعُوداً نَتَحَدَّثُ في ظِلِّ غْرْفَةٍ لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَذَكَرْنا السَّاعَةَ فارْتَفَعَتْ أصْواتُنَا، فقالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: لَنْ تَكُونَ، أوْ لَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ قَبْلَها عَشْرُ آيَاتٍ: طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ، وَخُرُوجُ يَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَالدَّجَّالِ، وَعِيسَى ابنِ مَرْيَمَ، وَالدُّخَانُ، وَثَلاَثُ خُسُوفٍ: خَسْفٍ بالمَغْرِبِ، وَخَسْفٍ بالمَشْرِقِ، وَخَسْفٍ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبَ، وَآخِرُ ذَلِكَ تخرج نارٌ مِنَ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرٍ عَدَنٍ، تَسُوقُ النَّاسَ إلَى المَحْشَرِ».<br />
16.	روى الترمذي : حَدَّثَنَا زَيْدُ بنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ البَصْرِيُّ حدثنا أَبُو قُتَيْبَةَ سَلْمُ بنُ قُتَيْبَةَ (قال) حدثني أَبُو مَوْدُودٍ المَدَنِيُّ أَخبرنا عُثْمَانُ بن الضَّحَّاكِ عَن مُحَمَّدِ بنِ يُوسُفَ بنِ عَبْدِ اللَّهِ بنِ سَلاَمٍ عَن أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قال ،: « مَكْتُوبٌ في التَّوْرَاةِ صِفَةُ مُحَمَّدٍ، وَصِفَةُ عِيسَى بنُ مَرْيَمَ يُدْفَنُ مَعَهُ. قالَ فقالَ أَبُو مَوْدُودٍ: قَدْ بَقِيَ في البَيْتِ مَوْضِعُ قَبْرٍ». قال أبو عيسى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. هكذاَ قالَ عُثْمَانُ بنُ الضَّحَّاكِ والمَعْرُوفُ الضَّحَّاكُ بنُ عُثْمَانَ المَدَينِيُّ.<br />
17.	روى ابن حبان في صحيحه رقم : 6707  أخبرنا أحمدُ بن علي بن المثنى ، قال: حدثنا هُدبة بن خالد ، قال: حدثنا همَّامُ بنُ يحيى ، قال: حدثنا قتادة ، عن عبد الرحمٰن ابن آدم عن أبي هُريرة أن رسول الله : قال : «الْأَنْبِياءُ كُلُّهمْ إِخوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهمْ شَتَّى وَدِينُهمْ وَاحِدٌ، وأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابنِ مَرْيمَ، إنَّهُ لَيْسَ بَيْنِي وبَيْنَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ نَازِلٌ، إِذا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ: رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلى الحُمْرَةِ وَالبَيَاضِ بَينَ مُمَصَّرَيْن، كأَنَّ رَأسَهُ يَقطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ، فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلى الإِسْلَامِ، فَيدُقُّ الصَّلِيبَ، ويَقتُلُ الخِنْزِيرَ، وَيَضَعُ الجِزْيَةَ، ويُهلِكُ اللَّهُ في زَمَانِهِ المِلَلَ كُلَّها إلَّا الإِسْلامَ، ويُهلِكُ المَسِيحَ الدَّجَّالَ، وَتَقَعُ الْأَمَنَةُ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى تَرتَعَ الْأُسْدُ مَعَ الإِبلِ، والنِّمَارُ مَعَ البَقَرِ، والذِّئابُ مَعَ الغَنَمِ، ويَلعَبُ الصِّبْيانُ بالحَيَّاتِ، لَا تَضرُّهُمْ، فيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أربَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوفَّى، فَيُصَلِّي عَلَيهِ المُسلِمُونَ، صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيهِ».<br />
18.	روى ابن حبان في صحيحه رقم : 6702  أخبرنا عبدُ الله بنُ محمد الأزديُّ ، قال: حَدَّثنا إسحاقُ بنُ إبراهيم ، قال: أخبرنا عمرو بنُ محمد العَنْقَزِي ، قال: حَدَّثنا ليثُ بن سعد ، عن المَقبُرِي ، عن عطاء بن مِينَاء عن أبي هُرَيْرَةَ ، عن رسولِ الله قال : «لَيَنْزِلَنَّ ابنُ مَرْيَمَ حَكَماً عادِلًا، فَيَكْسِرُ الصَّلِيبَ، ويَقتُلُ الخُنزِيرَ، ولَيَضَعَنَّ الجِزْيةَ، وَلَتُتْرَكَنَّ القِلَاصُ فَلا يُسْعَى عَلَيْها، وَلَتَذْهَبَنَّ الشَّحْناءُ والتَّبَاغُضُ والتَّحَاسُدُ، وَلَيُدْعَوُنَّ إِلى المَالِ فَلَا يَقْبَلُهُ أَحَدٌ».<br />
19.	روى ابن حبان رقم :   6697  أخبرنا محمدُ بنُ الحسن بنِ قُتَيْبةَ ، قال: حَدَّثنا يزيدُ بنُ مَوْهَبٍ ، قال: حَدَّثني الليثُ بنُ سعدٍ ، عن ابنِ شهابٍ ، أنَّه سَمِعَ عَبْدَ الله بنَ ثَعْلَبة الأنصاريَّ ، يُحدِّثُ عن عبد الرحمٰن بنِ يزيد الأنصاريِّ ، من بني عَمْرو بن عَوْف قال: سَمِعْتُ عَمِّي مُجمِّعَ بن جارية يقولُ: سَمِعْتُ رسولَ الله يقول : «يَقتُلُ ابنُ مَرْيَمَ الدَّجَّالَ بِبِابِ لُدَ».<br />
20.	روى ابن حبان رقم : 6698 أخبرنا أبو يعلى ، قال: حدثنا أبو خيثمة ، قال: حدثنا يونس بن محمد ، قال: حدثنا صالح بن عمر ، قال: حدثنا عاصمُ بن كُلَيب ، عن أبيه قال: سمعت أبا هريرة يقول : أُحدِّثُكم ما سمعتُ من رسولِ الله الصادِقِ المَصْدُوقِ؟ حدثنا رسول الله أبو القاسم الصَّادقُ المصدوق: «إِنَّ الأَعْورَ الدَّجَّالَ مَسِيحَ الضَّلَالةِ يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، فِي زَمَانِ اخْتِلافٍ مِنَ النَّاسِ وفُرْقَةٍ، فيَبْلُغُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنَ الأَرْضِ فِي أَرْبَعِينَ يَوماً، اللَّهُ أَعلَمُ ما مِقْدَارُها، اللَّهُ أَعلمَ ما مِقْدَارُها &#8211; مرَّتينِ &#8211; ويُنزِلُ اللَّهُ عِيسَى ابنَ مَرْيمَ، فَيَؤُمُّهمْ، فإِذَا رَفَعَ رَأسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، قَتَلَ اللَّهُ الدَّجَّالَ، وأَظْهَرَ المُؤْمِنِينَ».<br />
21.	روى ابن حبان رقم : 6705 أخبرنا محمدُ بنُ المنذرِ بنِ سعيد ، قال: حدثنا يوسفُ بنُ سعيد بن مُسلَّم ، حدثنا حجَّاج ، عن ابن جُرَيْجِ ، قال: أخبرني أبو الزبير أنه سَمِعَ جابرَ بن عبد الله يقول: سمعتُ رسولَ الله يقول : «لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقاتِلُونَ عَلى الحَقِّ، ظَاهِرِين إلى يَوْمِ القِيَامَةِ، فيَنْزِلُ عِيسى ابنُ مَرْيَم، فيَقُولُ أَميرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُولُ: لا، إنَّ بَعضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَراءُ لِتَكْرِمَةِ اللَّهِ هٰذه الأُمَّةَ».<br />
22.	روى ابن حبان رقم : 6688 أخبرنا عَبْدُ الله بنُ محمد بنِ سَلْمٍ ، قال: حدَّثنا عبدُ الرحمٰن بنُ إبراهيمَ ، قال: حَدَّثنا الوليد بن مسلم ، قال: حَدَّثنا الأوزاعيُّ ، عن ابنِ شهابٍ ، أن نافعَ بن أبي نافع مولى أبي قَتادة أخبره أن أبا هُريرةَ قالَ: قالَ رسولُ اللَّهِ : «كَيْفَ أَنتُمْ إِذَا نَزَلَ ابنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ، وَإِمامُكُمْ مِنْكُمْ»<br />
23.	روى مسلم في كتاب الحج : وحدّثنا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَ عَمْرٌو النَّاقِدُ وَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ. قَالَ سَعِيدٌ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ. حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ عَنْ حَنْظَلَةَ الأَسْلَمِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُهِلَّنَّ ابْنُ مَرْيَمَ بِفَجِّ الرَّوْحَاءِ، حَاجّاً أَوْ مُعْتَمِراً، أَوْ لَيَثْنِيَنَّهُمَا».<br />
24.	روي أحمد في مسنده حدّثنا عبد الله ، حدَّثني أبي ، ثنا يزيد ، أنا سفيان ، عن الزهري ، عن حنظلة ، عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ينزل عيسى ابن مريم فيقتل الخنزير، ويمحو الصليب، وتجمع له الصلاة، ويعطى المال حتى لا يقبل، ويضع الخراج، وينزل الروحاء فيحج منها أو يعتمر أو يجمعهما».<br />
25.	روى ابن حبان في صحيحه رقم : 6706  أخبرنا الحسين بن محمد بن أبي معشر ، قال: حدثنا محمد بن بشار ، قال: حدثنا عبد الوهَّاب ، قال: حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن الزهري ، عن حنظلة بن علي الأسلمي عن أبي هريرة ، عن النبي قال : «لَيُهِلَّنَّ ابنُ مَرْيَمَ بِفَجِّ الرَّوْحَاءِ حَاجاً أَو مُعتَمِراً، أَو لَيُثَنِّيَنَّهُمَا.<br />
26.	عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ ، قَالَ: ذَكَرَ رَسُولُ اللّهِ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ، &#8230;&#8230;  فَبَيْنَمَا هُوَ كَذٰلِكَ إِذْ بَعَثَ اللّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ. فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ. بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ. وَاضِعاً كَفَّيْهِ عَلَىٰ أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ. إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطرَ. وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ. فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيـحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ&#8230;. الخ رواه مسلم<br />
27.	حدَّثني عبدالرحمن بن جبير بن نفير الحضرمي عن أبيه أنه سمع النوّاس بن سمعان الكلابي قال: «ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم الدجال ذات غداة &#8230;.. فبينا هو على ذلك إذ بعث الله عزَّ وجلَّ المسيح ابن مريم، فينزل عند المنارة البيضاء شرقي دمشق، بين مهرودتين، واضعاً يده على أجنحة ملكين، فيتبعه، فيدركه، فيقتله عند باب لدّ الشرقي &#8230;.. الخ رواه أحمد<br />
28.	عَنْ النَّوَّاسِ بن سَمْعانَ الكِلاَبِيِّ قالَ: «ذَكَرَ رَسُولُ الله الدَّجَّالَ ذَاتَ غَداةٍ &#8230;. فَبَيْنَما هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هَبْطَ عِيَسَى بنُ مَرْيَمَ عليه السلام بِشَرْقِيِّ دِمَشْقَ عِنْدَ المَنَارَةِ البَيْضَاءِ بَيْنَ مَهْرُ ودَتَيْنِ وَاضِعاً يَدَيه عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قطر وإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كالُّلؤْلُؤِ &#8230;. الخ رواه الترمذي<br />
29.	عن النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ الْكِلاَبِيِّ ، قال: «ذَكَرَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم الدَّجَّالَ فقالَ: إنْ يَخْرُجْ &#8230;&#8230;.. ثُمَّ يَنْزِلُ عِيسَى ابنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عِنْدَ المَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيِّ دِمَشْقَ فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ لُدٍّ فَيْقْتُلُهُ». رواه أبو داود<br />
30.	حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ سَمِعَ النَّوَّاسَ بْنَ سَمْعَانَ الْكِلاَبِيَّ يَقُولُ: ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ الدَّجَّالَ، الْغَدَاةَ &#8230;&#8230;.. فَبَيْنَمَا هُمْ كَذٰلِكَ، إِذْ بَعَثَ اللَّهُ عِيسٰى بْنَ مَرْيَمَ، فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ، شَرْقِيَّ دِمَشْقَ، بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ، وَاضِعاً كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنَحَةِ مَلَكَيْنِ، إِذَا طَأْطَأَ رَأْس</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: KH. Achidin Noor, MA.</title>
		<link>http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-24</link>
		<dc:creator>KH. Achidin Noor, MA.</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 10:50:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://noctilucent.wordpress.com/2007/12/21/kronologis-kasus-ahmadiyah-manis-lor-kuningan/#comment-24</guid>
		<description>BAB XIV
KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan.

Setelah kami uraikan beberapa permasalahan Ahmadiyah walaupun hanya sebagai tulisan dan pembahasan sederhana, namun bisa kita simpulkan :
1.	Apa yang pernah dikabar ghoibkan oleh Rasulullah SAW bahwa fitnah bagi ummat Islam itu akan datang dari arah timur, benar-benar terjadi, yakni dengan munculnya pengaku nabi dan rasul Allah Mirza Ghulam Ahmad bin Mirza Gulam Murtadza.
2.	Ahmadiyah dimusuhi oleh ummat Islam bukan karena mereka iri dan dengki serta hasud terhadap kemajuan Ahmadiyah (kalaulah itu berarti kemajuan istimewa), namun karena begitu banyak perbedaan mendasar antara Ahmadiyah dan ummat Islam pada umumnya.
3.	Kekeliruan dan kesalahan Ahmadiyah dalam masalah aqidah akibat dari kekeliruan dan kesalahan methode istidlal (pengolahan dalil), di mana penakwilan-penakwilan hanya untuk memuluskan Mirza sebagai Isa Al-Masih, Imam Mahdi, nabi dan rasul
4.	Tadzkiroh bukan kitab suci Ahmadiyah karena di dalamnya tidak ada wahyu-wahyu Allah, buku itu berisi catatan dari bisikan-bisikan Jin/syetan dan manusia (minal jinnati wan naas) terhadap Mirza Ghulam Ahmad semasa hidupnya.
5.	Tidak ada jaminan Mirza Ghulam Ahmad tidak diganggu jin/syetan dalam segala pekerjaan dan berbagai macam bukti dari segala pengakuannya.
6.	Mirza Ghulam Ahmad bukan Isa Al-Masih yang dijanjikan dan bukan Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu.
7.	Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi dan bukan rasul Allah.
8.	Istilah nabi ummati dan rasul ummati dalam Ahmadiyah adalah bukti dari hadits-hadits Nabi SAW tentang akan adanya nabi palsu dan rasul palsu dari kalangan ummat Muhammad SAW (ummati).
9.	Mirza Ghulam Ahmad bukan pembaharu agama Islam, malah perusak aqidah ummat Islam.
10.	Khilafah yang dikembangkan dan dipraktekkan oleh Ahmadiyah hanyalah Khilafah Ruhaniyah, bukan Khilafah ala minhajin Nubuwwah, malah boleh dikatagorikan sebagai Kholifah-kholifahan, karena tidak sesuai dan jauh sekali dari system Kekhalifahan dalam Islam.

b. Saran.

Masalah Ahmadiyah adalah masalah internal ummat Islam, tidak bisa diselesaikan memakai pendekatan hukum positif manapun. Hanya dengan kaca mata Ajaran Islam yang benar Ahmadiyah bisa dinilai dan bisa diselesaikan. Kebaikan sosial dan kemajuan-kemajuan keduniaan Ahmadiyah bukan sebagai bukti kebenaran Ahmadiyah. Kita tidak usah tertarik dan simpatik dengan hal-hal gebyar semarak Ahmadiyah yang sering diekspos yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Pergolakan dan penentangan terhadap Ahmadiyah tidak akan berhenti sampai kapanpun, sebab mustahil bisa dipertemukan antara kelompok ummat Islam yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai pembohong, Isa Al-Masih palsu, Imam Mahdi palsu, nabi dan rasul palsu, dengan kelompok Ahmadiyah yang meyakini Mirza sebagai Isa al-Masih yang dijanjikan, Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu, sebagai Nabi dan Rasul dengan segala kelebihan-kelebihannya. 

Oleh karena itu, supaya ummat Islam tenang dan damai maka:

1.	Penanganan Ahmadiyah harus dengan tegas dan secara pro aktif dari Pemerintah atau pihak yang berwenang, karena kalau pemerintah diam maka yang bergerak ummat Islam sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan potensinya.

2.	Oleh karena posisi Ahmadiyah dalam aqidah Islamiyah sudah jelas dengan turunnya fatwa Liga Muslim Internasional ataupun secara Nasional melalui MUI, maka Ahmadiyah harus dibubarkan dan dilarang di Indonesia dengan dasar pendekatan hukum internal ummat Islam dan Ajaran Islam sendiri. Hukum positif sebagai legalitas formalnya. Kalau dengan solusi ini tidak efektif, maka solusi akhir adalah:

3.	Sebaiknya Ahmadiyah memisahkan diri dengan ummat Islam dan membentuk Agama baru (mungkin dengan nama Agama Ahmadiyah) dengan nabi dan rasulnya Mirza Ghulam Ahmad, Kitab Sucinya gabungan antara Al-Quraan dan Tadzkirah, sebagai mana kitab suci orang Kristen (Injil) gabungan dari Perjanjian Lama (Taurat Musa) dan Perjanjian Baru (yang turun kepada nabi Isa AS), Sunnah atau Haditsnya seluruh prilaku, tulisan dan buku-buku yang dikarang Mirza Ghulam Ahmad sendiri serta Sunnah para Kholifahnya. Lengkaplah sudah Ahmadiyah dan telah layak dikatagorikan sebagai sebuah agama baru. Insya Allah Ahmadiyah aman dan tenang, ummat Islam akan damai seperti damainya dengan agama-agama lain di Indonesia.

Wallahu ‘alamu bishshowaab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAB XIV<br />
KESIMPULAN DAN SARAN</p>
<p>a. Kesimpulan.</p>
<p>Setelah kami uraikan beberapa permasalahan Ahmadiyah walaupun hanya sebagai tulisan dan pembahasan sederhana, namun bisa kita simpulkan :<br />
1.	Apa yang pernah dikabar ghoibkan oleh Rasulullah SAW bahwa fitnah bagi ummat Islam itu akan datang dari arah timur, benar-benar terjadi, yakni dengan munculnya pengaku nabi dan rasul Allah Mirza Ghulam Ahmad bin Mirza Gulam Murtadza.<br />
2.	Ahmadiyah dimusuhi oleh ummat Islam bukan karena mereka iri dan dengki serta hasud terhadap kemajuan Ahmadiyah (kalaulah itu berarti kemajuan istimewa), namun karena begitu banyak perbedaan mendasar antara Ahmadiyah dan ummat Islam pada umumnya.<br />
3.	Kekeliruan dan kesalahan Ahmadiyah dalam masalah aqidah akibat dari kekeliruan dan kesalahan methode istidlal (pengolahan dalil), di mana penakwilan-penakwilan hanya untuk memuluskan Mirza sebagai Isa Al-Masih, Imam Mahdi, nabi dan rasul<br />
4.	Tadzkiroh bukan kitab suci Ahmadiyah karena di dalamnya tidak ada wahyu-wahyu Allah, buku itu berisi catatan dari bisikan-bisikan Jin/syetan dan manusia (minal jinnati wan naas) terhadap Mirza Ghulam Ahmad semasa hidupnya.<br />
5.	Tidak ada jaminan Mirza Ghulam Ahmad tidak diganggu jin/syetan dalam segala pekerjaan dan berbagai macam bukti dari segala pengakuannya.<br />
6.	Mirza Ghulam Ahmad bukan Isa Al-Masih yang dijanjikan dan bukan Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu.<br />
7.	Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi dan bukan rasul Allah.<br />
8.	Istilah nabi ummati dan rasul ummati dalam Ahmadiyah adalah bukti dari hadits-hadits Nabi SAW tentang akan adanya nabi palsu dan rasul palsu dari kalangan ummat Muhammad SAW (ummati).<br />
9.	Mirza Ghulam Ahmad bukan pembaharu agama Islam, malah perusak aqidah ummat Islam.<br />
10.	Khilafah yang dikembangkan dan dipraktekkan oleh Ahmadiyah hanyalah Khilafah Ruhaniyah, bukan Khilafah ala minhajin Nubuwwah, malah boleh dikatagorikan sebagai Kholifah-kholifahan, karena tidak sesuai dan jauh sekali dari system Kekhalifahan dalam Islam.</p>
<p>b. Saran.</p>
<p>Masalah Ahmadiyah adalah masalah internal ummat Islam, tidak bisa diselesaikan memakai pendekatan hukum positif manapun. Hanya dengan kaca mata Ajaran Islam yang benar Ahmadiyah bisa dinilai dan bisa diselesaikan. Kebaikan sosial dan kemajuan-kemajuan keduniaan Ahmadiyah bukan sebagai bukti kebenaran Ahmadiyah. Kita tidak usah tertarik dan simpatik dengan hal-hal gebyar semarak Ahmadiyah yang sering diekspos yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Pergolakan dan penentangan terhadap Ahmadiyah tidak akan berhenti sampai kapanpun, sebab mustahil bisa dipertemukan antara kelompok ummat Islam yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai pembohong, Isa Al-Masih palsu, Imam Mahdi palsu, nabi dan rasul palsu, dengan kelompok Ahmadiyah yang meyakini Mirza sebagai Isa al-Masih yang dijanjikan, Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu, sebagai Nabi dan Rasul dengan segala kelebihan-kelebihannya. </p>
<p>Oleh karena itu, supaya ummat Islam tenang dan damai maka:</p>
<p>1.	Penanganan Ahmadiyah harus dengan tegas dan secara pro aktif dari Pemerintah atau pihak yang berwenang, karena kalau pemerintah diam maka yang bergerak ummat Islam sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan potensinya.</p>
<p>2.	Oleh karena posisi Ahmadiyah dalam aqidah Islamiyah sudah jelas dengan turunnya fatwa Liga Muslim Internasional ataupun secara Nasional melalui MUI, maka Ahmadiyah harus dibubarkan dan dilarang di Indonesia dengan dasar pendekatan hukum internal ummat Islam dan Ajaran Islam sendiri. Hukum positif sebagai legalitas formalnya. Kalau dengan solusi ini tidak efektif, maka solusi akhir adalah:</p>
<p>3.	Sebaiknya Ahmadiyah memisahkan diri dengan ummat Islam dan membentuk Agama baru (mungkin dengan nama Agama Ahmadiyah) dengan nabi dan rasulnya Mirza Ghulam Ahmad, Kitab Sucinya gabungan antara Al-Quraan dan Tadzkirah, sebagai mana kitab suci orang Kristen (Injil) gabungan dari Perjanjian Lama (Taurat Musa) dan Perjanjian Baru (yang turun kepada nabi Isa AS), Sunnah atau Haditsnya seluruh prilaku, tulisan dan buku-buku yang dikarang Mirza Ghulam Ahmad sendiri serta Sunnah para Kholifahnya. Lengkaplah sudah Ahmadiyah dan telah layak dikatagorikan sebagai sebuah agama baru. Insya Allah Ahmadiyah aman dan tenang, ummat Islam akan damai seperti damainya dengan agama-agama lain di Indonesia.</p>
<p>Wallahu ‘alamu bishshowaab.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
