Archive for June, 2008

h1

BUNGA

30 June 2008

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan
hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan
kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari
ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun
perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai
mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit
sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia
mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini
bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam
ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding
waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meninggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari
istimewa : inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja
aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk
meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi
hari ini….

STOP KEKERASAN PADA WANITA…!!!

h1

Kekerasan atas nama agama

3 June 2008

Kekerasan atas nama agama bukanlah hal baru dalam riwayat perjalanan agama – agama dunia. Kekerasan tidak hanya terjadi antar pemeluk agama yang berbeda, benturan – benturan yang berujung kekerasan juga terjadi pada mereka yang memeluk agama yang sama. Sebut saja agama – agama besar dunia misalnya Islam, Protestant, Katolik, Hindu, Budha semuanya pernah mempunyai sejarah akan kekerasan.

Kekerasan atas nama agama berangkat dari perbedaan dalam memahami kitab suci, Tuhan, agama itu sendiri. Pebedaan – perbedaan pemahaman yang bermula dari ahli – ahli tafsir, ulama – ulama, para ahli kitab( dalam berbagai agama, hanya mereka yang berhak menafsirkan kitab suci )ini kemudian meluas ke akar rumput, yang kemudian melahirkan fanatisme – fanatisme sektarian dan semakin melembaga.  Fanatisme dan ketiadaan pemahaman tentang esensi beragama dan berTuhan pada level akar rumput inilah, yang membuat pemeluk agama melihat agama lain dari kacamata kepicikan yang sempit, sehingga cenderung merendahkan agama lain atau tafsir agama yang berbeda. Bagi mereka, tindakan atas nama agama tidak pernah salah, karena Tuhan dan kebenaran adalah monopoli mereka. ..Baca Selengkapnya..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.