Kekerasan atas nama agama bukanlah hal baru dalam riwayat perjalanan agama – agama dunia. Kekerasan tidak hanya terjadi antar pemeluk agama yang berbeda, benturan – benturan yang berujung kekerasan juga terjadi pada mereka yang memeluk agama yang sama. Sebut saja agama – agama besar dunia misalnya Islam, Protestant, Katolik, Hindu, Budha semuanya pernah mempunyai sejarah akan kekerasan.
Kekerasan atas nama agama berangkat dari perbedaan dalam memahami kitab suci, Tuhan, agama itu sendiri. Pebedaan – perbedaan pemahaman yang bermula dari ahli – ahli tafsir, ulama – ulama, para ahli kitab( dalam berbagai agama, hanya mereka yang berhak menafsirkan kitab suci )ini kemudian meluas ke akar rumput, yang kemudian melahirkan fanatisme – fanatisme sektarian dan semakin melembaga. Fanatisme dan ketiadaan pemahaman tentang esensi beragama dan berTuhan pada level akar rumput inilah, yang membuat pemeluk agama melihat agama lain dari kacamata kepicikan yang sempit, sehingga cenderung merendahkan agama lain atau tafsir agama yang berbeda. Bagi mereka, tindakan atas nama agama tidak pernah salah, karena Tuhan dan kebenaran adalah monopoli mereka.
Bila seluruh pemeluk agama dari seluruh agama yang ada itu sadar akan kesamaan esensi beragama yaitu memperjuangkan prinsip – prinsip agung, dan berupaya menyamai akhlak Tuhan sebatas kemampuan manusia, mungkin tidak akan terjadi kekerasan atas nama agama. Mengingat manusia diciptakan dari komposisi tanah yang berbeda, dilahirkan di lingkungan sosial dan tadisi yang berbeda, maka perbedaan adalah sesuatu yang wajar, dan tidak perlu dipersoalkan. Apalagi dalam sebuah negara yang dihuni oleh berbagai macam agama. Kalau hanya mementingkan ego, dan memikirkan siapa yang paling benar dan siapa yang paling pantas hidup dimuka bumi, maka manusia tidak akan pernah berhenti berperang.
Negara membutuhkan kedamaian dan kerjasama yang baik antar umat beragama, untuk membangun peradabannya, karenanya kejadian seperti di monas hari minggu lalu, tidak boleh ditolelir, karena tentunya kita tidak mau terjebak dalam peradaban primitif seperti itu. Kekerasan yang ditujukan untuk mengeliminasi perbedaan akan merusak nilai – nilai kemanusiaan yang terkandung dalam agama itu sendiri.
Marilah pahami esensi beragama dan ber TUhan, bersama kita wujudkan peradaban yang akan membuat bangga para founding father kita, peradaban yang akan ‘mencuri perhatian dunia’ (Dedy Mizwar).
Inilah tanda dunian kian ke penghujungnya …