
between sanity and insanity
21 October 2010There are a certain eras which are too complex, too deafened by contradictory historical and intellectual experiences, to hear the voice of sanity. Sanity becomes compromise, evasions, a lie.
– Susan Sontag
Sanity atau kewarasan, merupakan sikap umum yang diharapkan dari setiap individu oleh individu lain, dalam interaksinya dengan dunia. Kewarasan juga kerap dijadikan sebagai ukuran penerimaan individu di lingkungannya. Tapi yang mengganggu pikiran saya adalah, apa, darimana dan oleh siapa batasan – batasan kewarasan itu dibuat, apakah perilaku yang dianggap tidak waras itu sama dengan tidak baik ? apa yang mendorong individu untuk berlaku waras ?
Menurut saya, kewarasan bukan tool yang tepat untuk menilai individu, mengapa ? karena seperti yang dikatakan oleh Susan Sontag dalam kutipan diatas, bahwa sanity atau kewarasan itu merupakan hasil kompromi, bahkan bisa juga menjadi sebuah kebohongan. Batasan kewarasan ditentukan oleh “benar” yang majemuk, dan pada akhirnya “benar” yang dikompromikan. Agamawan, politisi, ekonom, ilmuwan, semuanya berlomba – lomba mengclaim kebenaran. Nama – nama nabi, orang – orang suci, dan filsuf, tiba – tiba saja menjadi nama produk yang di jejalkan di etalase – etalase toko buku, kelas – kelas, ruang diskusi dan mimbar, seperti produk – produk consumer lainnya. Pada akhirnya benar yang mana yang akan digunakan untuk menilai ? individu – individu dalam lingkungan sosial akan mengkompromikan kebenaran – kebenaran yang ada sesuai dengan angka mayoritasnya.
Dengan begitu, menjadi waras adalah menjadi apa yang diinginkan oleh kebenaran yang dikompromikan berdasarkan kuantiti mayoritas. Dan ketidak warasan adalah kebalikannya. Lalu apakah menjadi tidak waras ini sama dengan tidak baik ? tentu tidak sama sekali. Karena benar yang dikompromikan bukan benar yang sejati. Coba kita lihat nabi – nabi dan orang – orang besar, kebanyakan dari mereka di kategorikan sebagai orang tidak waras pada jamannya. Karena apa yang mereka apa yang mereka bawa dan yang mereka lakukan bertentangan dengan compromised truth pada saat itu, ditempat itu.
Bagi individu – individu yang selalu berusaha untuk menjadi waras,menjadi apa yang diinginkan dunia, seringkali membohongi dirinya sendiri demi penerimaan masyarakat atasnya. Kewarasan menjadi sebuah kebohongan dan pelarian dari keinginan dan asumsi kebenaran sejati individu. Jadi apa salahnya menjadi tak waras dalam lingkungan sosial juga belum tentu benar. Karena kebenaran sejati itu tidak ada, yg ada hanya suara hati dari kesejatian hidup, dan kita tidak ingin kewarasan dari benar yang terkompromikan ini merengut kebenaran dari suara hati sejati yang kita yakini.
Menurutk saya, waras adalah fase dimana seseorang mampu berkomunikasi dengan orang lain. Ketika orang tersebut berada diluar lingkungan sosial dan melakukan apa yg ingin dia lakukan dengan keinginannya sendiri, maka orang tersebut sudah seperti tidak waras.. Termasuk saya nulis2 begini.. Lg streessss.. -_-”
I miss u om kress.. Huhuhu..
hahahah…stress kenapa lw dit ?
tenang batas kewarasan gw gak sama sama orang lain..