“Oy, tanggung jawab nih, naikkin kursinya, lw kan yang berentiin. Nyusahin aja, dasar goblok, gw gak ada untungnya ngangkut beginian, bego, nyusahin. Malah nyengir lagi lw, bego. “
Umpatan itu terlontar dari seorang kernet kopaja, yang enggan menaikkan penumpang cacat dengan kursi roda. Bermula dari rasa kasihan seorang teman melihat orang tua dengan kursi roda, berusaha keras untuk menyetop kopaja, dan tidak satupun dari mereka bersedia untuk berhenti. Teman saya berinsiatif untuk membantu bapak tua itu, dan dia berhasil. Dia memapah bapak tua itu naik kopaja, begitu juga penumpang didalamnya, mereka dengan sigap membantunya naik, dan menaikkan kursi rodanya. Namun kami tidak menyangka, kernet kopaja tersebut akan melontarkan makian kasar nan kotor seperti itu.
Entah apa yang dipikirkan si kernet, enggan memapah orang cacat ? toh dia tidak melakukan apa – apa ketika teman saya dan penumpang lain saling bantu menaikkan si bapak tua dan kursi rodanya. Takut tidak dapat bayaran ? saya kira tidak, saya bisa lihat si bapak tua itu bukan tipe pengemis, yang mengandalkan kecacatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Satu yang saya dan teman saya sepakati. Ketiadaan nurani lah yang membuat si kernet berbuat demikian. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk membantu, alih – alih membantu, dia malah melontarkan makian. Beruntung teman saya hanya membalasnya dengan senyum, meski makian terus terlontar.
Mungkin kerasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit menggerus habis nurani manusia – manusia didalamnya, mengeraskan hatinya, dan menyuburkan naluri kekerasan? Atau kerasnya Jakarta hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh lemahnya mental manusia – manusianya yang tidak bisa menjaga liarnya hewan – hewan di dalam dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan, apakah kita mengijinkan Tuhan hadir dalam diri atau tidak.
Saya percaya di tengah – tengah Jakarta yang katanya kejam dan keras, masih banyak orang – orang bernurani, yang bisa tetap tersenyum ketika didera caci maki, yang dengan hati membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di dunia.
