h1

Sendu Hujan Senja

17 January 2017

Sendu hujan senja;
Membawa rindu masa lampau;
dari tempat yang jauh;
yang begitu asing dari ingat, sampai kaubiarkan ia membasihi wajah;
Disudutnya kelabu, kau temukan luka, tawa dan cerita;
bersembunyi tersamar terbungkus petrichor;
Perlahan, dilukisnya lembar lembar tua;
dengan senyum yang tenggelam dalam deras.

h1

Senandika Solitude

24 April 2014

solitude Seperti Engkau seperti aku,

ada dan tiada dalam rahim solitude

berjalan berbayang separuh resah

rindu untuk dikenali.

h1

Keindahan itu….

30 April 2013
Keindahan ini pertama-tama adalah abadi; ia tidak pernah diwujudkan maupun dimatikan; tak mengalami pasang surut; kemudian ia bukan indah sebagian dan jelek sebagian,bukan indah pada suatu saat dan jelek pada saat lain,bukan indah dalam kaitannya dengan hal ini dan jelek dengan hal itu, tidak beraneka menurut keragaman pemerhatinya; tidak pula keindahan ini akan tampil di dalam imajinasi seperti seperti kecantikan seraut wajah atau tangan atau sesuatu yang bersifat jasadiah, atau seperti keindahan yang bersemayam di dalam sesuatu di luar dirinya sendiri, apakah itu makhluk hidup atau bumi atau langit atau apapun lainnya; dia akan melihatnya sebagai yang absolut, ada sendirian di dalam dirinya, unik, abadi. – The Symposium – Plato
Keindahan, jauh dalam lubuk kesadaran setiap manusia, pasti bisa merasakan keberadaannya. Bertahun – tahun manusia melakukan perjalanan untuk mencarikan bentuk untuknya, bentuk yang diharapkan akan lebih mudah untuk dimengerti, lebih mudah dikenali oleh keterbatasan inderawinya. Dalam pencariannya, tidak banyak orang yang berhasil menemukan apa yang dicari.
Secara lahiriah, naluri manusia terbiasa mengenali segala sesuatu yang memiliki bentuk fisik, bentuk yang bisa dikenali inderanya. Keindahan, karena bukan benda fisikal dan sulit untuk diberi bentuk, maka ia seringkali di asosiasikan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan nafsu manusia akan hal – hal bendawi, hal – hal yang dapat dirasakan oleh panca indera.
Sayang hal – hal bendawi itu tidak pernah ada yang abadi, paling tidak, hal – hal seperti itu selalu terkait pada ruang dan waktu, terkait pada awal dan akhir, pada cipta dan tiada. Pada akhhirnya, manusia harus melakukan pencariannya kembali ketika benda – benda atau apapun yang diasosiasikannya dengan keindahan  telah sampai diakhir masa keberadaanya. Kehampaan itu datang lagi dan lagi dan lagi.
Ruang manusia yang dibatasi oleh indera tidak berarti manusia tidak akan mampu untuk menemukan keindahan. Seperti kata Plato dalam The Symposium, keindahan itu justru berada dalam diri, berdisi sendiri sebagai entitas yang unik. Hal – hal bendawi yang dikenali indera, idealnya dijadikan sebagai jendela, perantara, antara yang fisik dan rasa. Bukan membuat diri malah terjebak dalam perangkap pesonanya, seperti kebanyakan manusia modern.
Seperti sebuah hadist Qudsi “Aku rindu untuk dikenali, karena itu Aku ciptakan makhluk-makhluk agar Aku dikenali.” Makhluk bukan tujuan, tapi media untuk mengenali Dia. Seperti juga keindahan yang dimaksud oleh Plato.
h1

Anak semua bangsa – A Quote

24 July 2012

Memang bukan sesuatu yang baru, jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat di tengah tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti.

Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh pada pohon.

– Pramoedya – Anak Semua Bangsa

h1

solitude in rain

8 January 2012

hamparan waktu berjejak aku
dalam ruang kubus berbatas senja
sebuah solitude di padang jiwa;
bukan kesendirian, hanya penantian
untuk sebuah hujan sore
berteman secangkir teh, sehangat kekasih

h1

Jakarta dan Nurani

2 August 2011

“Oy, tanggung jawab nih, naikkin kursinya, lw kan yang berentiin. Nyusahin aja, dasar goblok, gw gak ada untungnya ngangkut beginian, bego, nyusahin. Malah nyengir lagi lw, bego. “

Umpatan itu terlontar dari seorang kernet kopaja, yang enggan menaikkan penumpang cacat dengan kursi roda. Bermula dari rasa kasihan seorang teman melihat orang tua dengan kursi roda, berusaha keras untuk menyetop kopaja, dan tidak satupun dari mereka bersedia untuk berhenti. Teman saya berinsiatif untuk membantu bapak tua  itu, dan dia berhasil. Dia memapah bapak tua itu naik kopaja, begitu juga penumpang didalamnya, mereka dengan sigap membantunya naik, dan menaikkan kursi rodanya.  Namun kami tidak menyangka, kernet kopaja tersebut akan melontarkan makian kasar nan kotor seperti itu.

Entah apa yang dipikirkan si kernet, enggan memapah orang cacat ? toh dia tidak melakukan apa – apa ketika teman saya dan penumpang lain saling bantu menaikkan si bapak tua dan kursi rodanya. Takut tidak dapat bayaran ? saya kira tidak, saya bisa lihat si bapak tua itu bukan tipe pengemis, yang mengandalkan kecacatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Satu yang saya dan teman saya sepakati. Ketiadaan nurani lah yang membuat si kernet berbuat demikian. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk membantu, alih – alih membantu, dia malah melontarkan makian. Beruntung teman saya hanya membalasnya dengan senyum, meski makian terus terlontar.

Mungkin kerasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit menggerus habis nurani manusia – manusia didalamnya, mengeraskan hatinya, dan menyuburkan naluri kekerasan? Atau kerasnya Jakarta hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh lemahnya mental manusia – manusianya yang tidak bisa menjaga liarnya hewan – hewan di dalam dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan, apakah kita mengijinkan Tuhan hadir dalam diri atau tidak.

Saya percaya di tengah  – tengah Jakarta yang katanya kejam dan keras, masih banyak orang – orang bernurani, yang bisa tetap tersenyum ketika didera caci maki, yang dengan hati membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di dunia.

h1

aforisme luka

17 April 2011

Seperti malam yang tak pernah kembali,
dikala hujan ilalang tumbuh untuk mati,
sepi, kembangkan asingku dibawah rembulan berkabut senja,
bermekaran, menyaru luka…