h1

Kisah Pasir

17 December 2007

Dari mata  airnya  yang  nun  jauh  di gunung sana, sebatang
sungai  mengalir  melewati  apapun  di  tebing  dan  ngarai,
akhirnya mencapai padang pasir. Selama ini ia telah berhasil
mengatasi halangan apapun dan sekarang berusaha  menaklukkan
halangan  yang  satu  ini.  Tetapi  setiap  kali  sungai itu
cepat-cepat melintasinya, airnya segera lenyap di pasir.

Sungai itu  sangat  yakin,  bahwa  ia  ditakdirkan  melewati
padang  pasir  itu, namun ia tidak bisa mengatasi masalahnya
Lalu, terdengar suara tersembunyi yang berasal  dari  padang
pasir  itu, bisiknya, “Angin bisa menyeberangi pasir, Sungai
pun bisa.”

Sungai  menolak  pernyataan  itu,   ia   sudah   cepat-cepat
menyeberangi  padang  pasir,  tetapi  airnya terserap: angin
bisa terbang, dan oleh karena itulah  ia  bisa  menyeberangi
padang pasir.

“Dengan  menyeberang  seperti  yang kulakukan itu jelas, kau
tak  akan  berhasil.  Kau  hanya  akan  lenyap   atau   jadi
paya-paya.   Kau   harus   mempersilahkan   angin  membawamu
menyeberangi padang pasir, ketempat tujuan.”

Tetapi bagaimana caranya? “Dengan membiarkan dirimu terserap
angin.”

Gagasan  itu  tidak  bisa  diterima Si Sungai. Bagaimanapun,
sebelumnya ia sama sekali tidak pernah  terserap.  Ia  tidak
mau kehilangan dirinya. Dan kalau dirinya itu lenyap, apakah
bisa dipastikan akan didapatnya kembali?

“Angin,” kata Si Pasir, “menjalankan tugas semacam  itu.  Ia
membawa  air,  membawanya  terbang menyeberang padang pasir,
dan menjatuhkannya lagi. Jatuh ke bumi  sebagai  hujan,  air
pun menjelma sungai.”

“Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu benar?”

“Memang  benar,  dan kalau kau tak mempercayainya, kau hanya
akan  menjadi  paya-paya;  dan  menjadi   paya-paya   itupun
memerlukan   waktu   bertahun-tahun   berpuluh   tahun.  Dan
paya-paya itu jelas tak sama dengan sungai, bukan?”

“Tapi, tak dapatkah aku tetap  berupa  sungai,  sama  dengan
keadaanku kini?”

“Apapun  juga yang terjadi, kau tidak akan bisa tetap berupa
dirimu  kini,”  bisik  suara  itu.  “Bagian  intimu  terbawa
terbang, dan membentuk sungai lagi nanti. Kau disebut sungai
juga seperti kini, sebab kau tak  tahu  bagian  dirimu  yang
mana inti itu.”

Mendengar  hal  itu,  dalam  pikiran  Si Sungai mulai muncul
gema. Samar-samar, ia ingat akan keadaan  ketika  ia  –atau
bagian   dirinya? –berada   dalam  pelukan  angin. Ia  juga
ingat– benar demikiankah? bahwa  hal  itulah yang  nyatanya
terjadi, bukan hal yang harus terjadi.

Dan  sungai  itu  pun  membubungkan  uapnya ke tangan-tangan
angin yang terbuka lebar, dan yang kemudian  dengan  tangkas
mengangkatnya   dan   menerbangkannya,   lalu  membiarkannya
merintik lembut segera  setelah  mencapai  atap gunung –nun
disana yang tak terkira jauhnya. Dan karena pernah meragukan
kebenarannya,  sungai  itu  ini  bisa  mengingat-ingat   dan
mencatat  lebih  tandas  pengalamannya secara terperinci. Ia
merenungkannya,  “Ya,  kini   aku   mengenal   diriku   yang
sebenarnya.”

Sungai  itu  telah  mendapat  pelajaran.  Namun  Sang  Pasir
berbisik, “Kami tahu sebab  kami  menyaksikannya  hari  demi
hari; dan karena kami, pasir ini, terbentang mulai dari tepi
pasir sampai ke gunung.”

Dan itulah sebabnya  mengapa  dikatakan  bahwa  cara  Sungai
Kehidupan melanjutkan perjalanannya tertulis di atas Pasir.

Catatan

Kisah  indah  ini  masih  beredar dalam tradisi lisan dalam
pelbagai bahasa, hampir selalu terdengar  di  kalangan  para
darwis dan murid-muridnya.

Kisah  ini  dicantumkan  oleh  Sir  Fairfax Cartwright dalam
bukunya, Mystic Rose from the  Garden  of  the  King  ‘Mawar
Mistik dari Taman Raja’ terbit tahun 1899.

Versi  ini  berasal  dari  Awad  Afifi, orang Tunisia, yang
meninggal tahun 1870.

————————————————————
K I S A H – K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: