h1

Orang – orang buta dan gajah

17 December 2007

Di seberang Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta.
Seorang raja dengan pengikutnya lewat dekat kota itu; ia
membawa tentara dan memasang tenda di gurun. Ia mempunyai
seekor gajah perkasa, yang dipergunakannya untuk berperang
dan menimbulkan ketakjuban rakyat.

Penduduk kota itu ingin sekali melihat gajah tersebut, dan
beberapa di antara orang-orang buta itupun berlari-lari
bagaikan badut-badut tolol berusaha mendekatinya.

Karena sama sekali tidak mengetahui bentuk dan ujud gajah,
merekapun meraba-raba sekenanya, mencoba membayangkan gajah
dengan menyentuh bagian tubuhnya.

Masing-masing berpikir telah mengetahui sesuatu, sebab telah
menyentuh bagian tubuh tertentu.

Ketika mereka kembali ke tengah-tengah kaumnya, orang-orang
pun berkerumun di sekeliling mereka. Orang-orang itu keliru
mencari tahu tentang kebenaran dari rekan-rekannya sendiri
yang sebenarnya telah tersesat.

Kerumunan orang itu bertanya tentang bentuk dan ujud gajah:
dan mendengarkan segala yang diberitahukan kepada mereka.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang
bentuk gajah. Jawabnya, “Gajah itu lebar, kasar, besar, dan
luas, seperti babut.”

Dan orang yang meraba belalainya berkata, “Saya tahu keadaan
sebenarnya. Gajah itu bagai pipa lurus dan kosong, dahsyat
dan suka menghancurkan.”

Orang yang menyentuh kakinya berkata, “Gajah itu perkasa
kokoh, bagaikan tiang.”

Masing-masing telah meraba satu bagian saja. Masing-masing
telah keliru menangkapnya. Tidak ada pikiran yang mengetahui
segala: pengetahuan bukanlah sahabat Si Buta. Semuanya
membayangkan sesuatu, yang sama sekali keliru.

Makhluk tidak mengetahui perihal ketuhanan. Tak ada Jalan
dalam pengetahuan ini yang bisa ditempuh dengan kemampuan
biasa.

Catatan

Kisah ini terkenal dalam versi Rumi “Gajah dalam Rumah
Gelap,” yang dimuat dalam Matnawi. Guru Rumi, hakim Sanai,
menyodorkan versi ini dalam buku pertama yang dianggap
klasik di kalangan Sufi, Taman Kebenaran yang Berpagar. Ia
meninggal tahun 1150.

Kedua kisah itu merupakan penyampaian cara pemikiran yang
sama, yang menurut tradisi, telah dipergunakan oleh
guru-guru Sufi selama berabad-abad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: