h1

MUI, mercusuar kebencian dan kekerasan

21 December 2007

Miris sekali mendengar kabar hari ini dari Kuningan, kaum Ahmadiah diserang oleh sejumlah massa yang menamakan dirinya Gerakan Anti Ahmadiah ( GERAH ), yang merupakan gabungan dari beberapa ormas garis keras Islam mainstream di Indonesia. Serangan ini tidak hanya merusak sejumlah infrastruktur kaum Ahmadiah seperti rumah dan mesjid tempat mereka beribadah, tapi juga mengakibatkan sejumlah orang terluka termasuk wanita. Ironisnya, dalam aksi perusakan itu mereka meneriakkan nama – nama Tuhan., Tuhan yang mana?

Alasan dari penyerangan ini adalah karena Ahmadiah dianggap berbeda dengan Islam Mainstream di indonesia. Mereka di fatwa sesat oleh sebuah lembaga independent Islam mainstream yang sebenarnya tidak punya kewenangan apapun atas orang lain, terlebih lagi menghakimi keyakinan yang dianggap berbeda dengan mereka. Fatwa MUI atas Ahmadiah inilah yang memicu orang – orang garis keras Islam melakukan kekerasan terhadap kaum Ahmadiah. Pembenaran diri mereka, didasarkan atas fatwa itu.

Sesaat setelah penyerangan itu diberitakan di media televisi, sejumlah pimpinan MUI pusat mengklarifikasi bahwa mereka tidak tahu menahu soal akan terjadinya penyerangan, mereka juga membantah bahwa Fatwa yang mereka buatlah yang mengakibatkan terjadinya penyerangan. MUI yang bodoh atau memang mereka tidak mau menerima kenyataan yang menyudutkan mereka. Bukankah di kuningan ada MUI juga? Apa mereka tidak pernah berkoordinasi? Atau mereka memang sengaja membiarkan kekerasan seperti ini terjadi, dengan dalih memurnikan kembali Islam yang tentu saja menurut penafsiran mereka.

MUI boleh beranggapan bahwa fatwa yang mereka buat bukan untuk dijadikan dasar pembenaran bagi sejumlah ormas Islam untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain yang memiliki keyakinan berbeda. Namun secara tidak langsung memang itulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Mereka seharusnya membuka mata, dan menyadari efek dari fatwa – fatwa yang mereka buat itu telah merugikan pihak lain, apa mereka pernah pikirkan itu?

Sebenarnya fatwa yang dikeluarkan oleh MUI hanyalah untuk dikonsumsi oleh umatnya sendiri, yang mengakui keberadaannya yang meyakininya sebagai wakil kebenaran dari keyakinannya. Sudah seharusnya tidak mempengaruhi umat – umat lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Disinilah letak kesalahan MUI. Apabila MUI membuat fatwa yang sekiranya dapat digunakan oleh sejumlah massa untuk berbuat kekerasan, hendaknya MUI juga menyertainya dengan petuah – petuah moral bagi umatnya, agar fatwa mereka tidak disalah gunakan. Jangan sampai fatwa mereka menjadi mercusuar kebenaran bagi orang – orang yang penuh kebencian kepada pemeluk keyakinan yang berbeda dengan mereka untuk melegitimasi tindak kekerasannya.

“ Jangan bicara Tuhan bila masih memelihara kebencian”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: