h1

bibit, bebet, bobot

26 December 2007

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman datang kepadaku dalam keadaan sedih dan sakit hati, aku hanya bisa mencoba menenangkannya terlebih dahulu ketimbang menanyakan penyebab kesedihannya itu, karena mungkin malah bisa membuatnya semakin terpuruk. Setelah temanku medapatkan kembali kekuatannya, dia menjelaskan bahwa kesedihannya itu disebabkan oleh penolakan pihak keluarga kekasihnya terhadap dirinya, hanya karena dia berasal dari keluarga yang broken home.

Bibit, bebet, bobot itu yang menyebabkan dirinya di vonis tidak pantas untuk berdampingan dengan kekasihnya. Miris sekali mendengarnya, yang muncul dalam benakku adalah, apakah seorang anak juga harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya dimasa lalu. Sungguh tidak adil memang, temanku itu hanya ingin bahagia, tapi apa boleh buat dia tersandung oleh budaya picik purbakala.

Memang dalam urusan jodoh itu sebaiknya pilihlah calon yang baik, namun penafsiran “baik” seperti apa yang akan kita pakai.untuk mengukur dan menakar si calon yang kelak akan menemani kita seumur hidup ini, apakah secara fisik, materi, pendidikan, keyakinan, atau keturunan. Parameter apa yang dipakai untuk menentukan bahwa si calon ini layak atau tidak bagi pasangannya, keluarga dan masyarakat. Biasanya untuk menilai layak atau tidak, orang selalu akan membandingkan segala sesuatunya dengan dirinya sendiri atau pun orang lain dalam lingkungannya yang ia kenal dengan baik. Egois bukan? Ya memang seperti itu lah kenyataannya.

Namun yang dirasakan paling tidak adil adalah ketika, kita di hakimi, di vonis di judge sebagai orang yang tidak layak gara – gara kesalahan orang tua kita dimasa lalu, ingat! Dimasa lalu! karena sekarang mungkin orang tua kita sudah memperbaikinya dan menjadi orang yang lebih baik. Contohnya ya seperti yang terjadi pada temanku diatas. Korban kepicikan budaya purba yang mungkin dahulu dianggap dapat menjaga agar tetap memiliki keturunan yang baik, hmmm…seperti kuda saja. Pada kuda  peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” memang pantas, karena dalam kasus kuda, yang dicari adalah kesempurnaan fisik berdasarkan genetika. Berbeda dengan manusia, manusia tidak bisa dinilai hanya dari fisik, ada akhlak, keimanan, dan lain – lain yang bukan unsur genetis dan dapat menurun.

Orang – orang seperti itu adalah orang – orang egois, sombong dan picik, bukan hanya sombong pada orang lain, tapi juga sombong kepada dirinya sendiri dan Tuhan. Mereka menganggap diri dan keluarga mereka sempurna karena diberikan beberapa kelebihan oleh Tuhan, namun mereka lupa, bahwa kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, dihadapan-Nya, semua orang sama dan sederajat. Jadi sebaiknya manfaatkanlah kelebihan yang merupakan titipan Tuhan itu sebagai alat kepanjangan tangan kasih Tuhan bagi orang – orang disekitar kita. Bukan malah membuat budaya yang lupa daratan.

“Tuhankan kita, berani menghakimi ciptaan-Nya yang sempurna?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: