h1

Dating Violence

3 March 2008

Mungkin belum banyak yang mengenal istilah ini, atau mungkin sudah? Popularitasnya memang kalah oleh Domestic Violence atau yang biasa kita kenal dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ( KDRT ). Namun pada dasarnya kedua bentuk violence ini sama saja, sama – sama menggunakan kekerasan terhadap pasangan.

Lalu apakah sebenarnya Dating Violence itu? Dating Violence adalah segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dalam hubungan pacaran. Menurut Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994 pasal 1, definisi kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. Bentuk kekerasan ini digolongkan menjadi tiga yaitu :

  1. Kekerasan fisik, misalnya memukul, menendang, menjambak rambut, mendorong, menampar, menonjok, mencekik, menganiaya bagian tubuh, menyundut dengan rokok, ataupun hal lain yang sifatnya membahayakan keselamatan fisik.

  2. Kekerasan seksual, bentuknya bisa berupa rabaan, ciuman, sentuhan yang tidak di kehendaki, pelecehan seksual, memaksa kita untuk melakukan hubungan seks dengan beribu satu alasan tanpa persetujuan, apalagi dengan ancaman akan meninggalkan, atau dengan penganiayaan.

  3. Kekerasan emosional, bentuknya berupa cacian, makian, umpatan, hinaan, menjadikan kita bahan olok-olok dan tertawaan ataupun menyebut kita dengan julukan yang bikin sakit hati, cemburu berlebihan, pembatasan aktivitas, pembatasan pergaulan, bahkan pemerasan. Kekerasan ini banyak terjadi, namun tidak kelihatan dan jarang disadari, termasuk oleh korbannya sendiri. Pada intinya, kekerasan emosional ini akan menimbulkan perasaan tertekan, tidak bebas dan tidak nyaman pada korbannya.

Banyak faktor yang mendorong terjadinya Dating Violence ini. Pertama, kita bisa berangkat dari budaya dalam masyarakat kita, doktrin mengenai laki – laki dan perempuan sudah diberikan sejak kecil, tentang perbedaan fisik, perilaku dan lain sebagainya sehingga menghasilkan image identitas atas mereka, seperti macho, maskulin, feminim, lemah lembut, dan banyak lagi. Lebih jauh lagi doktrin ini juga mengajarkan cara menempatan diri di depan lawan jenis. Bagaimana sebagai perempuan dan bagaimana sebagai laki – laki, mengingat budaya kita adalah patriakis, maka bagaimanapun juga posisi perempuan akan selalu berada “dibawah” laki – laki. Inilah yang menyebabkan mengapa perempuan lebih dominan menjadi korban dalam Dating violence. Doktrin budaya “laki-laki dan perempuan” ini telah memberikan legalitas kepada laki-laki untuk menjadi lebih berkuasa dan memberikan keyakinan kepada perempuan bahwa perempuan adalah “lemah” dan “penurut”.

Hal kedua yang memelihara terjadinya Dating violence adalah pembiaran, ketidakadilan gender yang sudah mendarah daging dalam masyarakat, membuat masyarakat seakan – akan menjadi maklum atas terjadinya Dating violence ini, bahkan dalam beberapa hal, pihak perempuan yang jelas – jelas sebagai korban, tetap disalahkan atas terjadinya Dating violence dengan berbagai alasan pembenaran. Yang ketiga dan tak kalah penting, adalah tidak adanya tindakan nyata dari korban untuk keluar dari segala bentu kekerasan yang dialaminya. Umumnya korban lebih memilih diam daripada menceritakan kepada orang tua, teman apalagi pihak yang berwenang, mereka selalu menutupi dengan berdalih, setidaknya mungkin sampai keadaan mereka sudah sangat parah, sehingga memerlukan pihak lain untuk membantunya misalnya teman, orang tua, pihak medis atau pihak yang berwajib. Hal ini biasanya terjadi karena korban mendapatkan ancaman dari pelaku, atau karena iba melihat pelaku yang memohon maaf setelah melakukan kekerasan, percaya bahawa pelaku telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, padahal seseorang yang punya kebiasaaan melakukan kekerasan terhadap pasangannya akan cenderung mengulangi lagi, karena hal itu sudah menjadi bagian kepribadiannya, sebagai cara penyelesaian konflik atau masalah. Keempat, dan yang paling bodoh adalah karena cinta, sayang, dan alasan-alasan lainnya yang selalu dipergunakan oleh mereka yang “buta”. Atas dasar alasan-alasan tersebut pulalah apabila terjadi kekerasan dalam pacaran, korban tidak mempermasalahkannya. Seringkali korban justru menyalahkan diri sendiri dan merasa pantas diperlakukan seperti itu sebagai hukuman atas ketidakmampuannya menjaga hubungan baik yang terjalin bersama pacarnya .

Secara hukum pelaku kekerasan ini bisa dijerat dan dijatuhi sangsi sesuai dengan KUHP, yaitu :

  1. Pasal 351 – 358 KUHP untuk penganiayaan fisik.

  2. Pasal 289 – 296 KUHP untuk pencabulan.

  3. Pasal 281 – 283 KUHP untuk pelecehan seksual.

  4. Pasal 285 KUHP untuk pemerkosaan.

  5. Pasal 532 – 533 KUHP untuk kejahatan terhadap kesopanan.

  6. Pasal 286 – 288 KUHP untuk persetubuhan dengan perempuan di bawah umur.

Jadi apabila kita melihat bentuk kekerasan seperti ini sebaiknya kita melaporkannya agar dapat segera dihentikan. Bila kita hanya diam, itu berarti kita ikut membiarkan kekerasan itu terjadi dan terjadi lagi, kita tidak inginkan itu. Katakan TIDAK untuk segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Buat perempuan – perempuan yang mengalami dating violence, tanyakan pada diri sendiri : “Apakah ini cinta ?”, katakan dengan tegas : “STOP hentikan sampai disini”. Ingat, kalian berhak untuk menolak apa yang tidak kalian suka, kalian berhak untuk bahagia. Pacaran mestinya merupakan keputusan sadar dengan penuh pertimbangan dan itikad baik antara kita dan pacar, melibatkan aspek emosi, keyakinan, sosial, dan budaya. Tentu ada unsur pembelajaran, penghargaan, penghormatan, komunikasi yang dapat menjadi pendekatan positif. Kalau terjadi kekerasan dalam pacaran, berarti tujuan ini tidak tercapai.

Akhir kata, hanya sekedar mengingatkan, mudah – mudahan bisa menjadi tamparan dan menyadarkan mereka – mereka yang membiarkan kekerasan terjadi pada dirinya dengan alasan cinta, takut atau apapun.

 

LOVE is NOT ABUSE, LOVE is RESPECT !!

 

( dari berbagai sumber )

2 comments

  1. trims atas komennya.. satuju pisan LOVE is NOT ABUSE, LOVE is RESPECT !!:mrgreen:


  2. sama -sama kang Deden, apalagi pelaku kekerasan itu ujung – ujungnya bisa merusak kredibiliotas cowok baik – baik, hehehe…jangan sampe deh…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: