h1

Caraku bahagia

24 April 2008

Sering kali kita merasa diri kita sedang menderita, depresi atau stress, namun kita tidak menyadari apa yang menyebabkan itu terjadi, bahkan mungkin kita tidak mau tahu. Lalu bagaimana cara kita untuk mengatasi hal ini. Karena tentu saja kita tidak mau selalu dibebani oleh hal – hal yang sangat menguras tenaga itu.

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengidentifikasi masalahnya, kita harus mengenali perasaan – perasaan negative di dalam diri kita sendiri. Buat beberapa orang melakukan ini tidak lah mudah, kenapa? Karena untuk mengenali perasaan – perasaan negative didalam diri itu butuh kejujuran pada diri sendiri dan butuh keberanian untuk mengakui keberadaannya. Kebanyakan orang lebih memilih untuk menyangkal keberadaannya dengan membohongi dirinya sendiri, bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, karena mereka terlalu takut mendapati bahwa dalam dirinya ada kesalahan. Yang diperlukan disini adalah keberanian, kejujuran dan kesadaran penuh untuk menghadapi perasaan negatif didalam diri. Ingat sebuah penyakit tidak akan dapat diobati kalau tidak dikenali lebih dulu. Lalu perasaan negatif seperti apa yang harus diidentifikasi? Apa saja, seperti bad mood, sakit hati, perasaan bersalah, trauma dan lain – lain. Kenalilah mereka terlebih dahulu.

Tahap berikutnya adalah dengan memahami bagaimana perasaan negatif itu ada. Dalam tahap ini kita harus memahami bahwa perasaan negatif ini hanya terdapat dalam diri kita sendiri, bukan diluar diri kita. Jangan lagi menyalahkan apa yang ada disekitar kita atas perasaan negatif yang ada dalam diri kita. Karena yang sesungguhnya bermasalah adalah diri kita sendiri, bukan lingkungan kita, bukan orang lain, bukan siapapun. Ini lah yang seringkali menghabiskan energi kita, kita selalu berusaha mengubah segala seuatu yang ada diluar diri kita, agar kita berasa nyaman dan bahagia. Kita mulai berusaha untuk merubah lingkungan sekitar, orang – orang sekitar, teman, kekasih, orang tua, dan lainnya. Kita tidak perlu melakukan itu, masalahnya ada pada diri kita. Tidak ada satu orang pun yang bisa membuat kita tidak bahagia, tidak ada satupun hal yang bisa membuat kita tersakiti. Tidak adanya kesadaran ke arah ini lah yang membuat kita memiliki perasaan – perasaan negatif itu. Berhentilah mencoba merubah kenyataan. Sedikit contoh, misalnya ketika rumah kita terkena dampak badai, siapa yang merasakan negatif? Badai atau kita? Apa yang membuat kita memiliki perasaan negatif? Badai atau reaksi kita atasnya? Badai merupakan fenomena alam yang biasa terjadi dan tidak ada yang salah dengannya. Kenyataan bukan masalah, masalahnya ada pada pikiran kita manusia, kita yang membuatnya, dan kita yang mengidentifikasi masalah ini sebagai “aku”.

Yang ketiga, adalah jangan sampai meng”aku”kan perasaan – perasaan negatif itu dengan diri kita, seakan – akan kita adalah perasaan itu. Misalnya, “aku frustasi” atau “aku trauma”, kata – kata itu akan semakin menenggelamkan kita kedalam ilusi perasaan yang sebenarnya tidak terjadi. Seharusnya kita katakan “ada rasa frustasi”, “ada rasa trauma”, dengan begini perasaan negatif ini akan terpisah dengan “aku”, kalau sudah begini biarkan saja perasaan itu, tinggalkan saja perasaan negatif itu, semua akan berlalu begitu saja tanpa kita sadari. Rasa frustasi tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, itu hanya efek samping dari hal – hal yang kita kerjakan. Seperti kita merasa lelah setelah kita berlari.

Bebas, adalah yang diperlukan untuk mendapatkan kebahagiaan, yang dimaksud bebas disini adalah bebas yang sebenarnya, bebas dari segala ikatan – ikatan yang bisa menimbulkan perasaan – perasaan negatif. Meskipun kita punya uang yang berlimpah, bila kita tidak bahagia, sama saja kita tidak pernah hidup. Ok, kita sangat kaya. Lalu apa gunanya bila kita adalah orang bebas yang tidak peduli lagi pada soal bagaimana orang akan bersikap pada kita. Kekayaan atau status, mereka tidak akan lagi mempengaruhi kebahagiaan kita. Keyakinan – keyakinan salah akan hidup yang dibentuk oleh komunitas seringkali memiliki peranan besar dalam menciptakan perasaan negatif dalam diri kita. Ada sebuah contoh bentuk kebodohan, salah seorang teman tampak begitu tersiksa karena berpisah dengan kekasihnya, sampai – sampai mengatakan bahwa dia tidak bisa bahagia dan hidup tanpa kekasihnya itu. Ini benar – benar bodoh. Kita tidak perlu memiliki ataupun dimiliki oleh apapun atau siapapun untuk bahagia. Bahkan kita tidak perlu jatuh cinta untuk bahagia, kita hanya perlu menjadi orang bebas, kita hanya perlu mencintai. Tapi tidak begitu persepsi sebagian banyak orang, mereka merasa bahwa mereka perlu sebuah keinginan, hasrat, nafsu dan gairah dalam hidup. Memang kadang kita merasa ingin diperhatikan, dihargai, dihormati dan lain – lain. Tapi kita hidup dalam persepsi komunitas mainstream yang mempunyai nilai – nilainya sendiri meski hanya untuk sebuah penghormatan. Nilai – nilai yang harus didapatkan dengan mengorbankan kebagiaan dan kebebasan hakiki yang sebenarnya sudah kita miliki, padahal dua hal itulah yang sebenarnya kita cari sejak awal. Pada akhirnya kita hanya menyia-nyiakan waktu kita. Tanpa itu pun kita bisa bahagia.

Ketika kita tidak lagi terikat pada hal – hal dan nilai – nilai yang bisa membawa perasaan negatif dalam diri kita, maka kita telah berhasil melepaskan status budak kita dan keluar dari penjara. Menjadi manusia. Tidak lagi merasakan cemas, tidak merasa terancam, tidak lagi peduli pada persepsi orang tentang kita, kita bukan lagi boneka yang dikendalikan oleh persepsi dan keyakinan salah yang diciptakan komunitas kita. Bukankah itu kebebasan yang sejati? Bukan kah itu kebahagiaan? Sekali lagi perasaan negatif yang membuat tidak bahagia ada didalam diri kita sendiri. Kebahagiaan didapat bukan dengan cara memiliki, tapi dengan melepaskan.

Tahap terakhir, adalah bagaimana kita bisa merubah diri kita? Kita bisa memulainya dengan belajar untuk mengubah cara berpikir kita. Jangan lagi beranggapan bahwa dengan mengubah apa yang ada disekitar kita bisa membuat kita merasa lebih baik. Kita harus bangun dari keterlenaan kita pada diri kita sendiri, ini lah sumber perasaan negatif itu. Ketika menghadapi perasaan negatif yang menghalangi kita mencapai kebebasan, hendaknya kita tidak lagi mencoba untuk merubah apapun di lingkungan external diri kita, karena kitalah yang harus berubah, kitalah yang harus diobati dan disembuhkan. Kejujuran pada diri sendiri, keberanian untuk merubah diri, dan kesadaran penuh akan hidup, itu yang kita perlukan dilangkah pertama mencapai kebahagiaan.

“The world is right because I feel good”, bukan “I feel good because the world is right”.

**Inspirasi dari Anthony de Mello

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: