h1

Aku dan perbedaan : Sebuah Aforisme

20 October 2009

cake_topper_pig_goatApa yang muncul di benak anda ketika melihat gambar yang saya temukan dari sebuah blog ini. I said, So sweet. Sepasang pengantin, seekor babi dan kambing. Seketika saya teringat sebuah quote dari “Putri Cina” sebuah buku karya Sindhunata, yang isinya seperti ini : “Kita datang kedunia ini sebagai saudara/ tapi mengapa kita mesti terikat pada daging dan darah/ yang ternyata hanya memisahkan kita”.
Saya beranggapan gambar ini adalah symbol dari penyatuan sebuah perbedaan. Hal yang terlarang untuk dilakukan di negri yang majemuk ini, terlebih bila melihat doktrin – doktrin klaim kebenaran dari pihak babi maupun kambing. Berbahagialah mereka – mereka yang berhasil melintasi geo-egoisme doktrin agama dan budaya, dan memilih untuk berbahagia dengan mengikuti kata hatinya, seperti si babi dan si kambing di atas. Berbahagialah mereka yang memilih jalan cinta, dikala kaum mereka saling caci dan membenci.

Kedua mempelai diatas duduk di sebuah kue, mungkin karena persamaan selera atas kue ini lah yang mempersatukan mereka. Yang jelas buat mereka, pada level ini tidak ada lagi perbedaan. Mereka berhasil menemukan esensi dari perbedaan – perbedaan yang dibuat oleh persepsi dan keyakinan orang lain. Mereka menemukan Cinta, anugrah di jalan Tuhan yang terindah dan tidak dibatasi oleh kotak – kotak doktrin politis agama, budaya atau apapun.

Kebahagian mempelai diatas pastinya diperoleh dengan tidak mudah. Well, harga barang dengan kualitas nomor satu tentunya berbeda dengan kualitas dibawahnya. Mengapa tidak mudah ? Karena kita terlanjur hidup dalam persepsi orang lain, cara hidup kita seakan – akan sudah dipilihkan oleh orang lain dan dipaksakan secara semena – mena kepada kita tanpa izin kita, meski sering kali kita tidak sadari. Apabila mereka berkata kambing dan babi tidak boleh bersatu, maka itulah kebenaran. Vox Populis Vox Dei, itu menurut mereka.

Anna Lemon S, pernah menulis begini “ Kita dilahirkan berbeda, tapi kenapa kita mengikuti orang lain ? Kenapa kita menempatkan diri kita ? Kenapa kita menyamakan diri kita ? Kenapa kita terjebak dalam surelaisme orang lain ? “ kondisi seperti ini lah yang harus dilawan oleh tuan babi dan nyonya kambing diatas untuk mendapatkan kebahagiaannya. Mendobrak surelaisme orang lain yang dipaksakan kepada mereka.

Selamat menempuh hidup baru, Tuan Babi dan Nyonya Kambing. Selamat menikmati buah dari perjuangan dan konsistensi kalian atas cinta. Indahnya hati adalah keindahan yang abadi, tiap sudutnya melenyapkan segala dahaga dari air kehidupan. Tetaplah bersama Tuhan karena Tuhan ada dalam segala keindahan.

2 comments

  1. Selamat sudah mendekati asa yang diharapkan. [Salam buat Nyonya Kambing…hehhehehe]


  2. Saya suka fotonya..🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: