h1

Jakarta dan Nurani

2 August 2011

“Oy, tanggung jawab nih, naikkin kursinya, lw kan yang berentiin. Nyusahin aja, dasar goblok, gw gak ada untungnya ngangkut beginian, bego, nyusahin. Malah nyengir lagi lw, bego. “

Umpatan itu terlontar dari seorang kernet kopaja, yang enggan menaikkan penumpang cacat dengan kursi roda. Bermula dari rasa kasihan seorang teman melihat orang tua dengan kursi roda, berusaha keras untuk menyetop kopaja, dan tidak satupun dari mereka bersedia untuk berhenti. Teman saya berinsiatif untuk membantu bapak tua  itu, dan dia berhasil. Dia memapah bapak tua itu naik kopaja, begitu juga penumpang didalamnya, mereka dengan sigap membantunya naik, dan menaikkan kursi rodanya.  Namun kami tidak menyangka, kernet kopaja tersebut akan melontarkan makian kasar nan kotor seperti itu.

Entah apa yang dipikirkan si kernet, enggan memapah orang cacat ? toh dia tidak melakukan apa – apa ketika teman saya dan penumpang lain saling bantu menaikkan si bapak tua dan kursi rodanya. Takut tidak dapat bayaran ? saya kira tidak, saya bisa lihat si bapak tua itu bukan tipe pengemis, yang mengandalkan kecacatannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Satu yang saya dan teman saya sepakati. Ketiadaan nurani lah yang membuat si kernet berbuat demikian. Hatinya tidak tergerak sama sekali untuk membantu, alih – alih membantu, dia malah melontarkan makian. Beruntung teman saya hanya membalasnya dengan senyum, meski makian terus terlontar.

Mungkin kerasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit menggerus habis nurani manusia – manusia didalamnya, mengeraskan hatinya, dan menyuburkan naluri kekerasan? Atau kerasnya Jakarta hanya dijadikan sebagai kambing hitam oleh lemahnya mental manusia – manusianya yang tidak bisa menjaga liarnya hewan – hewan di dalam dirinya. Menjadi baik atau buruk adalah pilihan, apakah kita mengijinkan Tuhan hadir dalam diri atau tidak.

Saya percaya di tengah  – tengah Jakarta yang katanya kejam dan keras, masih banyak orang – orang bernurani, yang bisa tetap tersenyum ketika didera caci maki, yang dengan hati membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadi kepanjangan tangan Tuhan di dunia.

One comment

  1. Saya jdi inget kejadian tahun pertama menjejakan kaki di Jakarta. Saat itu, persis kejadiannya, saya jg naik kopaja, P20 arah ke lebak bulus. Ada bapak2 buta,yg kebetulan jg satu kopaja dgn saya. Dia menanyakan sebuah jalan yg saya tahu betul dimana. Tapi entah kenapa si kenek itu stelah menerima upah, mendorong bapak2 itu turun dengan alasan sudah sampai tujuan, padahal tempat yg dituju masih jauh. Melihat itu ada rasa marah yg betul2 menyakiti hati saya.Sesampai2nya di rumah saya menangis meraung2, sampai kakak saya bingung.Konyol kalau diingat, tapi saya sakit hati, melihat kelakuan si kenek dan penumpang lain yg masa bodoh, bgitupula saya yg terlalu culun utk berbicara. Sejak saat itu saya jadi sadar “hijrah ke Jakarta adalah menyiapkan diri utk kematian nurani”,setelah 8 tahun smoga saya bkn salah satunya. *jdi blog dlm blog, bodo ah* :p



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: