h1

Keindahan itu….

30 April 2013
Keindahan ini pertama-tama adalah abadi; ia tidak pernah diwujudkan maupun dimatikan; tak mengalami pasang surut; kemudian ia bukan indah sebagian dan jelek sebagian,bukan indah pada suatu saat dan jelek pada saat lain,bukan indah dalam kaitannya dengan hal ini dan jelek dengan hal itu, tidak beraneka menurut keragaman pemerhatinya; tidak pula keindahan ini akan tampil di dalam imajinasi seperti seperti kecantikan seraut wajah atau tangan atau sesuatu yang bersifat jasadiah, atau seperti keindahan yang bersemayam di dalam sesuatu di luar dirinya sendiri, apakah itu makhluk hidup atau bumi atau langit atau apapun lainnya; dia akan melihatnya sebagai yang absolut, ada sendirian di dalam dirinya, unik, abadi. – The Symposium – Plato
Keindahan, jauh dalam lubuk kesadaran setiap manusia, pasti bisa merasakan keberadaannya. Bertahun – tahun manusia melakukan perjalanan untuk mencarikan bentuk untuknya, bentuk yang diharapkan akan lebih mudah untuk dimengerti, lebih mudah dikenali oleh keterbatasan inderawinya. Dalam pencariannya, tidak banyak orang yang berhasil menemukan apa yang dicari.
Secara lahiriah, naluri manusia terbiasa mengenali segala sesuatu yang memiliki bentuk fisik, bentuk yang bisa dikenali inderanya. Keindahan, karena bukan benda fisikal dan sulit untuk diberi bentuk, maka ia seringkali di asosiasikan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan nafsu manusia akan hal – hal bendawi, hal – hal yang dapat dirasakan oleh panca indera.
Sayang hal – hal bendawi itu tidak pernah ada yang abadi, paling tidak, hal – hal seperti itu selalu terkait pada ruang dan waktu, terkait pada awal dan akhir, pada cipta dan tiada. Pada akhhirnya, manusia harus melakukan pencariannya kembali ketika benda – benda atau apapun yang diasosiasikannya dengan keindahan  telah sampai diakhir masa keberadaanya. Kehampaan itu datang lagi dan lagi dan lagi.
Ruang manusia yang dibatasi oleh indera tidak berarti manusia tidak akan mampu untuk menemukan keindahan. Seperti kata Plato dalam The Symposium, keindahan itu justru berada dalam diri, berdisi sendiri sebagai entitas yang unik. Hal – hal bendawi yang dikenali indera, idealnya dijadikan sebagai jendela, perantara, antara yang fisik dan rasa. Bukan membuat diri malah terjebak dalam perangkap pesonanya, seperti kebanyakan manusia modern.
Seperti sebuah hadist Qudsi “Aku rindu untuk dikenali, karena itu Aku ciptakan makhluk-makhluk agar Aku dikenali.” Makhluk bukan tujuan, tapi media untuk mengenali Dia. Seperti juga keindahan yang dimaksud oleh Plato.

One comment

  1. Sudah lama nih nggak nulis lagi.. Ayo donk nulis lagi.. hehehe..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: